Showing posts with label Life oh Life. Show all posts
Showing posts with label Life oh Life. Show all posts

Sunday, May 19, 2013

Kenapa Harus Mapan?


Beberapa waku yang lalu, di timeline saya seliweran tweet, dan kayanya sih yang ngetwit cowok, bahwa pilihlah perempuan jangan yang mau sama kamu setelah kamu sukses tapi ya yang mau berjuang dari nol. Saya senyum-senyum.

Mama saya sering mengatakan hal yang sama, kalau bisa, punya suami itu ya yang kamu bisa berjuang bareng-bareng sama dia. Soalnya, kata mama lagi, kalo kamunya ga punya apa-apa dan dianya kaya, itu namanya ‘kere munggah bale’. Itu peribahasa Jawa yang intinya sih semacam ‘ikut-ikutan kaya karena suami’ gitulah.

Saya nggak maido (duh ini bahasa Indonesianya apa ya?), mama saya menjalaninya, beneran nikah sama papa sejak beliaunya masih sama-sama kuliah. Tapi anak kuliahan jaman dulu sama jaman sekarang beda, jaman segitu papa saya sudah bisa bayar kuliah sendiri dari hasil bantu-bantu proyek dosen, proyek dia sendiri, bikin taman. Sampe musti tidur di tikar karena baru sanggup beli tanah, belom punya duit buat bangun rumahnya, sampe akhirnya bisa punya perusahaan konsultan sendiri dan beliau jadi salah satu arsitek yang cukup dipercaya. They do share the ups and downs, dan saya amat bangga, pengen banget kaya beliau-beliau.

Saya pernah bertemu, kenalan, dan kemudian jadian sama seorang yang sama seperti papa saya waktu nikah sama mama: Belum punya pekerjaan tetap. Saat itu saya merasa bisa mengulang romantika mama-papa yang sama-sama berjuang dari nol. But guess what? Keadaannya nggak sama. Papa berjuang keluar dari zona ketidaknyamanan-nya dengan bekerja serabutan, supaya bisa hidup lebih baik. Sedangkan si seseorang ini merasa menjadi serabutan adalah pilihan hidupnya. Beda kan?

Nikah bukan cuma urusan hidup dan berjuang bareng dari nol. Apa yang diperjuangkan harus jelas, tujuannya harus jelas, komitmennya harus jelas. Karena nikah bukan kontrak yang bisa kelar setahun-dua tahun dan pisah tanpa merasa bersalah. Nikah adalah komitmen seumur hidup, bukan cuma antara dua anak manusia, tapi juga sama Tuhannya.

Berpasangan atau memilih menikah dengan seseorang yang telah mapan sejak belum menikah bukan berarti tidak mau berjuang dari nol. Berjuang dalam pernikahan tidak sama dengan berjuang mencapai kemapanan finansial. Kalaupun sudah mapan secara finansial sebelum menikah, bukan berarti kehidupan pernikahan seseorang bakalan mulus kaya jalan tol. Saya menyaksikan sendiri betapa kakak-kakak saya, yang sebelum menikahpun sudah cukup secara finansial, masih harus berjuang dalam pernikahannya. Dan di luar sana banyak sekali contohnya orang-orang yang berpisah karena faktor ekonomi. Kalau finansial bukan hal yang krusial, mana mungkin orang rela bercerai ‘hanya’ karena urusan uang?

Ada beberapa ‘keuntungan’ menikah dengan seseorang yang sudah mapan/cukup secara finansial, diantaranya urusan pernikahan bisa lebih terperhatikan. Di awal-awal pernikahan akan banyak sekali konflik di luar urusan finansial yang menguras emosi, bahkan hal sekecil kebiasaan sehari-hari pasangan. Apalagi kalau si istri juga bekerja yang bukan mengejar karir tapi mengejar pekerjaan (kalo kata Rene Suhardono kan your job is not your career. Job itu cari duit, kalo career itu cari kepuasan batin), saat bekerja seakan jadi ‘kewajiban’ buat istri karena kemampuan finansial suami belum cukup buat menopang hidup bersama (belom lagi kalo ada anaknya). Ini bukan nggak percaya sama kemurahan Allah bahwa rezeki sudah diatur, dan setiap yang dikasih hidup pasti dikasih rizki dari Allah, darimanapun datangnya, looh... Ini sekedar menganalisa kelebihan menikah saat finansial sudah mapan/ cukup.

Bukan berarti yang belum punya pekerjaan tetap/ mapan dan cukup secara finansial kehilangan harapan buat menikah looh. Jangan syedih :) Buat para perempuan yang sedang cari calon pendamping, dan percaya bahwa menikah itu membuka pintu rizki, jadi menikah untuk membuka ladang rizki (selain amal ibadah tentunya) bagi dia dan suaminya kelak, perhatikan baik-baik: Carilah pria yang punya integritas! Dari situ insyaAllah kita bisa tau apakah setelah menikah si pria akan bertanggung jawab secara finansial (baca: nafkah lahir) atau tidak. Cari pria yang biasa (karena memang bisa) diandalkan teman-temannya. Tanya visinya dan lihat upayanya. Ada beda yang jelas antara mereka yang berupaya (meskipun serabutan) tapi punya tujuan, dengan yang serabutan karena tidak punya tujuan. Tujuan juga terlihat dari sebesar apa usahanya, seberapa sering dia bangkit lagi setelah gagal.

Jadi, menikah setelah kecukupan finansial buka berarti tidak mau berjuang bersama loh, ini tentang starting point. Mereka yang menikah setelah mapan/cukup finansial punya lebih banyak waktu untuk fokus ke internal pernikahan dan tetek bengek hubungan di dalamnya karena kebutuhan primer sandang-pangan-papan sudah terlebih dahulu terpenuhi, dan bisa akselerasi ke fase ‘bermanfaat bagi sebanyak-banyak orang’. starting poin mereka berada di depan mereka yang masih sama-sama berjuang mencapai kemapanan finansial.

Diluar itu semua, cukup nggak cukup, mapan nggak mapan, adalah soal ukuran masing-masing individu. Ada yang mapan dan cukup adalah kalau mobilnya sudah Alphard, ada yang punya Mio menganggap sudah cukup mapan. So, at last, suit yourselves :)

Love
XOXO
24042013 12.27

Thursday, March 21, 2013

Pecandu Sekolah (?)



Saya ini apa semacam school enthusiast ya?

Saya belum pernah ingat sekolah yang bikin saya bosen atau mogok sekolah. Kuliah juga tidak. 

Bagian yang saya paling sukai dari sekolah ya itu, ketemu banyak teman, bisa diskusi macem-macem. Nggak tau kenapa juga pahitnya sekolah seperti dimarahin dosen, berpacu dengan deadline, ujian yang susah dan kepahitan-kepahitan lain itu jadi candu tersendiri. Mereka akan segera menjelma sebagai keluhan yang pada akhirnya saya tertawakan. 

Saya sangat menikmati bisa presentasi di depan kelas, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan memuaskan. Saya sering bikin teman-teman saya jengkel karena di jam kuliah yang seharusnya sudah berakhir, saya masih tanya-jawab sama dosen dan bikin mereka telat bubaran. Hehe. Maaf yaa teman-teman...

Bukannya sok asik, tapi saya memang nggak pernah sangat membenci satu mata kuliah atau seorang dosen. Bukan berarti di kampus saya nggak ada dosen yang menyebalkan. Tapi, ya, they’re human, afterall. Memangnya kita nggak (pernah) nyebelin apah? :p Kalau benci sama mata kuliah juga kayanya nggak ada sih, cuma nggak bisa aja, dan berakhir dengan nilai kurang memuaskan tapi nggak pernah pengen saya ulang. Kalau memang saya tau dosennya menyebalkan atau tugasnya sulit atau merasa kemampuan dan minat saya bukan di situ, kenapa musti saya ulang? Lebih baik fokus pada mata kuliah yang kita suka, kita kuasai, kita rasa menyenangkan, and strike a good score is surely easier. 

Ada 2 mata kuliah krusial yang saya cuma dapet nilai C dan saya nggak mengulangnya: Satuan Operasi dan Satuan Proses. Inti dari teknik lingkungan ya di sini semua. Proses dasar pengolahan air limbah, air bersih dan semua-semua yang berbau kimia dan fisika, ya di mata kuliah itulah gudangnya. Saya nggak terlalu jago fisika dan kimia, memang. Awalnya dapet C nggak terima sih, karena pas ujian merasa bisa mengerjakan, terus protes deh. Tapi setelah ditunjukin lembar jawab yang udah dikoreksi sama dosen, langsung lemas. Hahahaha. 

Habis itu? Ya move on lah, nggak perlu dipikirin lama-lama, dari awal memang saya nggak jago dan nggak terlalu suka, toh ada mata kuliah lain yang nggak se-fisika dan se-kimia itu, dan saya jauh lebih menikmatinya. Jadi energi saya sebagian besar teralihkan ke sana, ke tema mata kuliah yang saya suka: Sampah dan Udara. Hasilnya alhamdulillah sangat memuaskan. 

That’s how I am dealing with schools (that you consider as ‘sucks’).
LOVE
XOXO

Tuesday, March 19, 2013

Salah Jurusan (!!!)



Dear fellas...

Berapa banyak dari kita yang punya sodara kelas 3 SMA? Yang mau masuk kuliah? Atau mungkin kamu? :)

Berapa banyak dari mereka yang bingung mau masuk jurusan apa? Hehehe... Jangan-jangan bingung semua? Semoga enggak yaa... :D Karena pas kuliah nanti akan ada lebih banyak kebingungan dibandingkan saat memilih jurusan, kalauuu... kita nggak memilih jurusan dengan ‘benar’ setidaknya menurut pendapat kita.

Masa kuliah nggak sama seperti masa SMA (eh, tapi kalau SMA-nya moving class sih beda cerita yaa :)). Waktu kuliah, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentukan keberlanjutan kuliah kita nantinya. Misalnya, yang simpel: Milih mata kuliah semester depan. Ini terdengar sederhana untuk mereka yang sudah menemukan atau merencanakan ‘jejaknya’ semenjak awal. Tapi kalau belum ada tujuan, nggak dapet cukup informasi seperti apa mata kuliahnya, gimana dosennya, apa manfaat kuliahnya, ya susah. Belum lagi untuk hal-hal yang lebih krusial seperti menentukan tempat kerja praktek, magang dan sejenisnya, dan ‘The End of The Show’ : Tugas Akhir.

Itulah mengapa memilih jurusan menjadi penting. Karena banyak dari teman-teman saya merasa ‘Salah Masuk Jurusan’. Kebanyakan karena nggak tau, nanti pas kuliah bakalan dapet apa, gimana mata kuliahnya, meliputi ilmu apa aja, dan gimana suasana kampusnya. Banyak yang nggak menyangka, kalau kuliah di Teknik Lingkungan bakalan ‘serumit’ ini, se-kimia ini, se-sipil ini, dan se-kotor ini. Hahahaha... Saya sendiri sempat kaget, karena ekspektasi saya kuliah di Teknik Lingkungan nggak akan se-teknik itu. Tapi ternyata... Ya... Judulnya Teknik, tetep aja teknik :p Ya ngitung, ya fisika, ya kimia, ada biologinya juga, ada ngitung struktur, nggambar, belajar hidrolika, belajar manajemen, hukum dan ekonomi juga. WOW pokoknya.

Alhamdulillah, saya nggak sebegitu ‘tersesat’ di Teknik Lingkungan, atas bantuan adik sepupu saya dan buku bimbelnya, saya jadi punya bayangan seperti apa kuliah di Teknik Lingkungan, ditambah dia punya teman SMA yang juga kuliah di Teknik Lingkungan yang bisa ditanya-tanya. Sebelum SNMPTN juga saya pernah main ke kampusnya, dari situ saya tau kalau kampusnya masih ‘nebeng’ di kampus Teknik Sipil. Tapi nggak masalah, karena waktu survey itu juga saya liat, anak Sipil kece-kece #eh. Dari berbagai info yang saya dapat. Alhamdulillah saya MANTAP memilih Teknik Lingkungan sebagai pilihan pertama di SNMPTN. 

Hal yang lebih penting dari mendapatkan cukup informasi adalah bertanya pada diri sendiri: Apa passion saya? Di bidang apa?. Dari situ, pilihan bisa jauh mengerucut. Kenapa harus sesuai passion? Ya karena kuliah 4 tahun itu nggak bisa nggak membosankan, apalagi mengerjakan tugas-tugas di dalamnya. Utamanya pas magang/ KP dan mengerjakan skripsi. Passion drives us to carry on. Kalo gak sesuai passion, kena tugas yang ribet sedikit pasti pengennya nyerah, cari jalan pintas dan akhirnya kita nggak dapet ilmunya. Kuliah sekedar biar dapet ijazah doang. Betapa sayangnya keringat orang tua kita yang membiayai kuliah 4 tahun, atau bahkan lebih :(

Gimana caranya tau passion kita di bidang apa? Kalo kata om Rene Suhardono siih... Passion kita ada di hal yang bisa bikin kita betah berjam-jam melakukannya, ada pada hal yang kita cintai, bukan yang kita kuasai. Nah! Go ask ourselves, apakah itu?

“Tapi saya disuruh orang tua ambil jurusan ini...” 

“Oh, really? You need to put your parents in a hard discussion.” Kita perlu tau apa yang orang tua harapkan dari kita. Nggak bisa dipungkiri, masih banyak orang tua yang merasa berhak menentukan jalan hidup kita ke depan. Jangan marah, karena nggak ada orang tua - yang baik – yang berniat menjerumuskan anaknya. Itu adalah bentuk kecintaan beliau-beliau kepada kita. Tapi terkadang, kita juga perlu membuka diskusi untuk mengungkapkan apa yang kita inginkan, hal apa yang kita cintai. Berargumenlah dengan santun kepada orang tua. Mungkin ‘pemaksaaan’ mereka karena mereka belum tau keinginan kita, atau melihat kita seperti ‘tidak punya keinginan’. Tapi keinginan juga harus konsekuen ya :) Sometimes they need to see us struggling a bit more just to prove our statements :) Kalau apa yang kita pilih adalah passion kita, insyaAllah, berjuang bukan hal yang sulit. It’s like fighting for our love, and it’s worth the fight. 

Semoga yang masih bingung diberikan kemudahan oleh Allah untuk segera menemukan ‘cinta’-nya.

Love.
XOXO

Wednesday, February 20, 2013

Unfollow



Beberapa hari yang lalu, beberapa follower saya di twitter hilang, saya di-unfollow. Saya bukan orang yang menuhankan jumlah follower, sama sekali enggak. Saya cuma kaget aja, mereka yang unfollow saya, beberapa, adalah orang yang saya kenal dan saya kira saya cukup dekat dengan mereka.
People doing something for a reason, for sure, begitu juga unfollowing. Pasti ada sebabnya kenapa mereka unfollow saya. Mesti saya akui, sejak punya gadget baru (hahahaha, silly) saya memang jadi norak dan sengak. Dikit-dikit update Instagram, dikit-dikit ngomongin kerjaan. And I know I will, karena saya tipikal orang yang punya euphoria berlebih kalo nemu hal yang baru, dalam hal ini, dalam saat-saat ini: Gadget baru dan kerjaan baru. Ini bukan pamer (tapi kalau tetep mau dibilang pamer ya silakan aja sih, bebas :)), tapi saya lebih suka blak-blakan, daripada dibilang: “Hapenya baru nih yeeee...” gara-gara mendadak bisa Instagram-an.  Makanya, beberapa saat setelah punya gadget baru itu saya minta ijin untuk norak dan songong di twitter. Ya meskipun saya tau nggak semua orang baca twit saya yang itu.

Di bio twitter, saya bilang: Like a cup of hot chocolate, I could be warm to comfort you, or too hot to burn your tongue. I mean it. Kadang saya bisa bicara sesuatu yang disetujui banyak orang, bikin yang galau jadi tenang, bersikap dewasa menghadapi sesuatu yang nggak enak, this is the warm hot chocolate. Enak, manis, menyenangkan. Tapi... Saya orang yang hobi banget komentar nylekit, dan saya yakin nggak semua orang suka sama komentar-komentar saya. Well, lidah pasti kebakar karena hot chocolate kita terlalu panas, kan?

Tapi kita nggak bisa memaksa orang untuk selalu suka sama kita, mengapresiasi yang kita kerjakan, atau bahkan nggak sanggup memaklumi (kalau nggak sampai memahami) bagaimana kondisi kita. Hmm, mereka kan nggak punya waktu untuk itu. Terlebih, saya punya tagar dan kultwit malam mingguan: #PutusinLakwes, yang membicarakan soal relationship, khususnya pacaran vs pernikahan. I know it’s been irritating for some people. Nggak semua orang suka (kalo nggak bisa diiang nggak ada yang suka, hahaha) sama tagar ini. Ada yang anti banget sampai nggak santai reaksinya :D

I’ve learned enough. Memang saya yang harusnya menahan diri dan bisa mengendalikan nafsu norak saya di socmed. Because people are tend to be judgmental (ih, kamu juga kali Sas! | Iya iya...), apalagi di media sosial. I’m not hoping my lost follower to be back. No. But I need to thank you guys, my friends, yang saya nggak tau kenapa judulnya ‘follower’, it sounds annoying, no? - yang dengan sabar men-skip twit-twit saya yang menyebalkan di timeline kalian :) I have to really appreciate that.

Mudah-mudahan Allah membantu saya meluruskan hati dan niat saya. Amin.

11.31, 02202013

Monday, February 18, 2013

Gus-Gus dan Islam Harmonis



Saya tengah membaca sebuah buku yang berisi kumpulan kata pengantar-yang tidak seperti kata pengantar- dari KH. A. Mustofa Bisri. Judulnya, Koridor. Ya. Harus diakui memang kata pengantar tulisan beliau tidak seperti kata pengantar pada umumnya. Beliau seperti memiliki ceritanya sendiri, kisahnya sendiri, yang meskipun relevan dengan buku yang dihantarkannya, namun seperti satu karya yang berdiri mandiri.
 
Ada satu pengantar yang menceritakan tentang sosok KH. Abdurrahman Wahid. Ya, Gus Dur. Beliau adalah kawan Gus Mus semasa kuliah di Mesir. Dari penuturan beliau, jelaslah mengapa Kiai yang mantan presiden itu begitu kontroversial.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui seperti apa keseharian Gus Dur, terlebih semasa kuliah. Namun dengan mengesankan, Gus Mus berhasil membuka mata saya atas kontroversi Gus Dur, terutama terkait pernyataan-pernyatan beliau. Gus Dur sangat cerdas, setidaknya begitulah yang saya tangkap. Kemampuan nalarnya melampaui zamannya, melampaui kemampuan rata-rata orang, melampaui peristiwa-peristiwa yang sama dan berulang. Itulah, mungkin, mengapa pernyataan-pernyataan Gus Dur sulit diterima kebanyakan orang. Bukan pernyataannya yang salah, mungkin kemampuan nalar kitalah yang ‘belum sampai’ di tataran nalar beliau. 

Saya teringat diskusi dengan kawan-kawan saya semasa kuliah, belum lama ini. Kami menyoal Nahdliyin ‘vs’ Ikhwanul Muslimin. Satu kawan saya adalah jebolan madrasah, sedangkan kawan saya yang satu lagi berasal dari keluarga yang kental ‘ikhwanul muslimin’-nya. Sampailah kami pada pembahasan soal Gus Dur. Teman Ikhwanul Muslimin saya berkata “Kan Gus Dur nggak solat, itu kata adiknya sendiri loh! Dia juga membuka kerjasama dengan Israel. Apa nggak sesat itu namanya?”. Saya terhenyak. Soal Gus Dur membuka hubungan dengan Israel, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang ‘nyleneh’ semasa menjabat sebagai Presiden saya tahu, tapi kalau Gus Dur tidak sholat itu, baru pertama kali saya mendengarnya. Tajam. Dan perasaan yang sama selalu saya rasakan ketika membaca web, blog, dan twit kawan2 Ikhwanul Muslimin yang lain. Saya sulit menemukan ketenangan di sana. Tapi soal Gus Dur sholat atau tidak, biarlah Allah yang menilainya.

Dalam tulisannya, Gus Mus bercerita. Upaya Gus Dur membuka kerjasama dengan Israel, dan pemikiran, sikap dan pernyataan lain yang membuat beliau dianggap sesat, adalah salah satu cara beliau untuk mengajak mereka ke jalan Allah. Mengajak, artinya kepada mereka yang belum berada di jalan Allah, ya termasuk para yahudi itu, ya (mungkin) para Tionghoa itu, ya para kawan-kawan nasrani, dan mereka-mereka yang belum mengenal Islam, belum mengenal dan belum berada di jalan Allah. 

Saya rasa, apa yang dilakukan Gus Dur mirip dengan cara para Waliyullah ( Wali Songo) menyebarkan islam di masa silam. Dakwah, syiar, tidak perlu tajam menghunus perasaan. Tidak perlu ketus menghapus hal-hal yang tidak sejalan. Tidak serta-merta mengharamkan, tidak menyeruduk dan meninggalkan keselarasan dan keberagaman. Kesembilan Wali itu menggunakan cara-cara yang halus, ‘membelokkan’ tradisi yang jauh dari Islami, membaurkan apa yang sesuai dengan ajaran Islam, bertoleransi kepada mereka yang dulu penganut Hindu agar simpati kepada ajaran Islam. Dan hasilnya? Hingga kini Islam menjadi agama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Cara ini tentu sulit untuk kita klaim sebagai kegagalan.

Sayangnya, sepertinya cara-cara ini kini tidak banyak dilirik. Orang berlomba-lomba menjadi sangat Islami dengan cara-cara yang menyakitkan. Menghujat sesat, memfatwa haram, membunuh keberagaman. Saya pribadi merindukan wajah Islam yang damai, yang bertoleransi dan menghargai agama lain, yang merengkuh tradisi menjadi sarana dakwah, yang menggandeng kebhinekaan menjadi kekuatan untuk menebarkan rahmat Allah di muka bumi. Bukankah Islam itu rahmatan lil ‘alamain (rahmat bagi semesta alam), bukan hanya rahmatan lil muslimin (rahmat bagi orang-orang Islam)? 

Maka apa yang dulu dilakukan Gus Dur, kini saya anggap sebagai cerminan dakwah yang menebar rahmat. Memberi selamat misalnya, tentu orang yang memberi adalah ia yang tangannya berada di atas, ia yang berarti lebih mampu, mungkin juga lebih dewasa, lebih mengayomi. Kalaulah memberi selamat hari raya agama lain dianggap sebagai lemahnya iman untuk ikut-ikut mengiyakan dan merayakan keyakinan mereka, maka izinkan saya menyampaikan apa yang pernah diungkapkan Prof. Quraisy Shihab tentang memberi selamat bahwa apa yang terucap bisa jadi tidak sejalan dengan niatan dalam hati, dan belum tentu juga ditangkap sebagai hal yang sama. Maksudnya, bila niat kita memberi selamat sebagai bentuk ‘tangan di atas’ dalam rangka menunjukkan wajah Islam yang harmonis, bukan sebagai upaya turut serta merayakan, kemudian kita ungkapkan, dan ditangkap oleh umat agama lain sebagai ucapan selamat, berdoalah semoga Allah menjaga iman kita, membukakan hidayah bagi mereka yang belum di jalan Allah, dan sungguhpun Allah Mahamengetahui.

Dalam buku Gus Mus itu, saya menemukan oase. Kehausan saya akan Islam yang ramah, santun, berpadu dalam harmoni keberagaman tanpa mengorbankan keimanan, perlahan terhapus.
Semarang, 18022103


Monday, February 20, 2012

And The Journey Begin

The good friend of mine, Muja, called me about his trip to Indonesia.He wants to visit Jogja, Semarang and Bandung. He's Malaysian, I met him in EDMAT, engineering student training, once in Malaysia. Long before his arrival, he asked me to join the trip. I said yes without thinking twice. All I have in my mind is that this tour is definitely gonna be FUN. What can I ask more? A good friend from across the sea is about to come with his friends and we're going to have good times together. So yeah, it's a solid YES.

Months after months waiting...

And suddenly, it's a week before the day they'll come! And I prepared like... NOTHING! Nothing at all... No plan, no money, no itinerary, NOTHING AT ALL! Goosssshhhh... I texted my Indonesian Delegates friends, just few of them replied. Panic!!! But with the power of Kepepet, I dare myself to arrange things. Few discussion, debates, and arguments, but nothing will happen if nobody come to the destination to observe. I call my old friend (literally OLD hahahahah kidding), Sasa. We've been friends since Elementary School. I asked her to accompany me stroll around Jogja to find interesting places. With some guidance from my cute friend, Irta (I thought she's a Tourism Ambassador of Jogjakarta, she knows almost EVERYTHING in Jogja. LOL).
Then, I came to Jogja by myself, and ready to walk around with Sasa. We walked from my sister's house - Keraton Jogja (Jogjakarta Palace) - Taman Sari - Pasar Ngasem - Malioboro. Such a tiring day. But FUN though...

Unfortunately, I didn't take any pics at all... So sorry...
But anyway, we should win some or learn some. Here we go:

Lesson learned for Tour Guiding Beginners:
1. Plan well! To receive a good friend from other country that want to find out the beauty of our country, PLAN is absolutely needed. Being a last-minute-decision-maker is sometimes challenging, but for me, establish a plan is waaay better.
2. Ask for raw itinerary. It will help us to find out what kind of place they would like to visit, also to minimize disappointment. However, we want to satisfy them, don't we?
3. Do some research. It's 2012 and internet is like flowers in summertime, it's everywhere! Just Google-up for interesting places, spots, foods, and what so ever, and find out how can we get there, ticket price, and interesting facts behind the place.
4. Prepare Accommodation. Make sure that we won't neglect them, give our best service and our widest smile. Confirm their housing and transportation. Hospitality is a plus to make them comfortable and attracted to come and come again :)
5. Make friends and be a family. I'm not talking about seeing them as a prospect to be our husband/ wife-to-be and raise a family (unless, we've got a crush loong before their trip. Oops!). It's about treating them as our family. Me? I bring along my Mom with me, now they consider my Mom as theirs too! How cool is that?

Batik

Jogja Palace Puppet Show

Taman Sari

The best is yet to come! See you in the next posting :D