Beberapa waku yang lalu, di timeline saya seliweran tweet,
dan kayanya sih yang ngetwit cowok, bahwa pilihlah perempuan jangan yang mau
sama kamu setelah kamu sukses tapi ya yang mau berjuang dari nol. Saya
senyum-senyum.
Mama saya sering mengatakan hal yang sama, kalau bisa, punya
suami itu ya yang kamu bisa berjuang bareng-bareng sama dia. Soalnya, kata mama
lagi, kalo kamunya ga punya apa-apa dan dianya kaya, itu namanya ‘kere munggah
bale’. Itu peribahasa Jawa yang intinya sih semacam ‘ikut-ikutan kaya karena
suami’ gitulah.
Saya nggak maido (duh ini bahasa Indonesianya apa ya?), mama
saya menjalaninya, beneran nikah sama papa sejak beliaunya masih sama-sama
kuliah. Tapi anak kuliahan jaman dulu sama jaman sekarang beda, jaman segitu
papa saya sudah bisa bayar kuliah sendiri dari hasil bantu-bantu proyek dosen,
proyek dia sendiri, bikin taman. Sampe musti tidur di tikar karena baru sanggup
beli tanah, belom punya duit buat bangun rumahnya, sampe akhirnya bisa punya
perusahaan konsultan sendiri dan beliau jadi salah satu arsitek yang cukup
dipercaya. They do share the ups and downs, dan saya amat bangga, pengen banget
kaya beliau-beliau.
Saya pernah bertemu, kenalan, dan kemudian jadian sama
seorang yang sama seperti papa saya waktu nikah sama mama: Belum punya
pekerjaan tetap. Saat itu saya merasa bisa mengulang romantika mama-papa yang
sama-sama berjuang dari nol. But guess what? Keadaannya nggak sama. Papa
berjuang keluar dari zona ketidaknyamanan-nya dengan bekerja serabutan, supaya
bisa hidup lebih baik. Sedangkan si seseorang ini merasa menjadi serabutan
adalah pilihan hidupnya. Beda kan?
Nikah bukan cuma urusan hidup dan berjuang bareng dari nol.
Apa yang diperjuangkan harus jelas, tujuannya harus jelas, komitmennya harus
jelas. Karena nikah bukan kontrak yang bisa kelar setahun-dua tahun dan pisah
tanpa merasa bersalah. Nikah adalah komitmen seumur hidup, bukan cuma antara
dua anak manusia, tapi juga sama Tuhannya.
Berpasangan atau memilih menikah dengan seseorang yang telah
mapan sejak belum menikah bukan berarti tidak mau berjuang dari nol. Berjuang
dalam pernikahan tidak sama dengan berjuang mencapai kemapanan finansial. Kalaupun
sudah mapan secara finansial sebelum menikah, bukan berarti kehidupan
pernikahan seseorang bakalan mulus kaya jalan tol. Saya menyaksikan sendiri
betapa kakak-kakak saya, yang sebelum menikahpun sudah cukup secara finansial,
masih harus berjuang dalam pernikahannya. Dan di luar sana banyak sekali
contohnya orang-orang yang berpisah karena faktor ekonomi. Kalau finansial
bukan hal yang krusial, mana mungkin orang rela bercerai ‘hanya’ karena urusan
uang?
Ada beberapa ‘keuntungan’ menikah dengan seseorang yang
sudah mapan/cukup secara finansial, diantaranya urusan pernikahan bisa lebih
terperhatikan. Di awal-awal pernikahan akan banyak sekali konflik di luar
urusan finansial yang menguras emosi, bahkan hal sekecil kebiasaan sehari-hari
pasangan. Apalagi kalau si istri juga bekerja yang bukan mengejar karir tapi
mengejar pekerjaan (kalo kata Rene Suhardono kan your job is not your career.
Job itu cari duit, kalo career itu cari kepuasan batin), saat bekerja seakan
jadi ‘kewajiban’ buat istri karena kemampuan finansial suami belum cukup buat
menopang hidup bersama (belom lagi kalo ada anaknya). Ini bukan nggak percaya
sama kemurahan Allah bahwa rezeki sudah diatur, dan setiap yang dikasih hidup
pasti dikasih rizki dari Allah, darimanapun datangnya, looh... Ini sekedar
menganalisa kelebihan menikah saat finansial sudah mapan/ cukup.
Bukan berarti yang belum punya pekerjaan tetap/ mapan dan
cukup secara finansial kehilangan harapan buat menikah looh. Jangan syedih :) Buat
para perempuan yang sedang cari calon pendamping, dan percaya bahwa menikah itu
membuka pintu rizki, jadi menikah untuk membuka ladang rizki (selain amal
ibadah tentunya) bagi dia dan suaminya kelak, perhatikan baik-baik: Carilah
pria yang punya integritas! Dari situ insyaAllah kita bisa tau apakah setelah
menikah si pria akan bertanggung jawab secara finansial (baca: nafkah lahir)
atau tidak. Cari pria yang biasa (karena memang bisa) diandalkan teman-temannya.
Tanya visinya dan lihat upayanya. Ada beda yang jelas antara mereka yang
berupaya (meskipun serabutan) tapi punya tujuan, dengan yang serabutan karena
tidak punya tujuan. Tujuan juga terlihat dari sebesar apa usahanya, seberapa
sering dia bangkit lagi setelah gagal.
Jadi, menikah setelah kecukupan finansial buka berarti tidak
mau berjuang bersama loh, ini tentang starting point. Mereka yang menikah
setelah mapan/cukup finansial punya lebih banyak waktu untuk fokus ke internal
pernikahan dan tetek bengek hubungan di dalamnya karena kebutuhan primer
sandang-pangan-papan sudah terlebih dahulu terpenuhi, dan bisa akselerasi ke
fase ‘bermanfaat bagi sebanyak-banyak orang’. starting poin mereka berada di
depan mereka yang masih sama-sama berjuang mencapai kemapanan finansial.
Diluar itu semua, cukup nggak cukup, mapan nggak mapan,
adalah soal ukuran masing-masing individu. Ada yang mapan dan cukup adalah
kalau mobilnya sudah Alphard, ada yang punya Mio menganggap sudah cukup mapan.
So, at last, suit yourselves :)
Love
XOXO
24042013 12.27


