Beberapa hari yang
lalu, beberapa follower saya di twitter hilang, saya di-unfollow. Saya bukan
orang yang menuhankan jumlah follower, sama sekali enggak. Saya cuma kaget aja,
mereka yang unfollow saya, beberapa, adalah orang yang saya kenal dan saya kira
saya cukup dekat dengan mereka.
People doing
something for a reason, for sure, begitu juga unfollowing. Pasti ada sebabnya
kenapa mereka unfollow saya. Mesti saya akui, sejak punya gadget baru
(hahahaha, silly) saya memang jadi norak dan sengak. Dikit-dikit update Instagram, dikit-dikit ngomongin kerjaan. And I know I will, karena saya
tipikal orang yang punya euphoria berlebih kalo nemu hal yang baru, dalam hal
ini, dalam saat-saat ini: Gadget baru dan kerjaan baru. Ini bukan pamer (tapi
kalau tetep mau dibilang pamer ya silakan aja sih, bebas :)), tapi saya lebih
suka blak-blakan, daripada dibilang: “Hapenya baru nih yeeee...” gara-gara
mendadak bisa Instagram-an. Makanya,
beberapa saat setelah punya gadget baru itu saya minta ijin untuk norak dan
songong di twitter. Ya meskipun saya tau nggak semua orang baca twit saya yang
itu.
Di bio twitter, saya
bilang: Like a cup of hot chocolate, I could be warm to comfort you, or too hot
to burn your tongue. I mean it. Kadang saya bisa bicara sesuatu yang disetujui
banyak orang, bikin yang galau jadi tenang, bersikap dewasa menghadapi sesuatu
yang nggak enak, this is the warm hot chocolate. Enak, manis, menyenangkan.
Tapi... Saya orang yang hobi banget komentar nylekit, dan saya yakin nggak
semua orang suka sama komentar-komentar saya. Well, lidah pasti kebakar karena
hot chocolate kita terlalu panas, kan?
Tapi kita nggak bisa
memaksa orang untuk selalu suka sama kita, mengapresiasi yang kita kerjakan,
atau bahkan nggak sanggup memaklumi (kalau nggak sampai memahami) bagaimana
kondisi kita. Hmm, mereka kan nggak punya waktu untuk itu. Terlebih, saya
punya tagar dan kultwit malam mingguan: #PutusinLakwes, yang membicarakan soal
relationship, khususnya pacaran vs pernikahan. I know it’s been irritating for
some people. Nggak semua orang suka (kalo nggak bisa diiang nggak ada yang
suka, hahaha) sama tagar ini. Ada yang anti banget sampai nggak santai
reaksinya :D
I’ve learned enough.
Memang saya yang harusnya menahan diri dan bisa mengendalikan nafsu norak saya
di socmed. Because people are tend to be judgmental (ih, kamu juga kali Sas! |
Iya iya...), apalagi di media sosial. I’m not hoping my lost follower to be
back. No. But I need to thank you guys, my friends, yang saya nggak tau kenapa
judulnya ‘follower’, it sounds annoying, no? - yang dengan sabar men-skip
twit-twit saya yang menyebalkan di timeline kalian :) I have to really appreciate
that.
Mudah-mudahan Allah
membantu saya meluruskan hati dan niat saya. Amin.
No comments:
Post a Comment