Wednesday, February 20, 2013

Unfollow



Beberapa hari yang lalu, beberapa follower saya di twitter hilang, saya di-unfollow. Saya bukan orang yang menuhankan jumlah follower, sama sekali enggak. Saya cuma kaget aja, mereka yang unfollow saya, beberapa, adalah orang yang saya kenal dan saya kira saya cukup dekat dengan mereka.
People doing something for a reason, for sure, begitu juga unfollowing. Pasti ada sebabnya kenapa mereka unfollow saya. Mesti saya akui, sejak punya gadget baru (hahahaha, silly) saya memang jadi norak dan sengak. Dikit-dikit update Instagram, dikit-dikit ngomongin kerjaan. And I know I will, karena saya tipikal orang yang punya euphoria berlebih kalo nemu hal yang baru, dalam hal ini, dalam saat-saat ini: Gadget baru dan kerjaan baru. Ini bukan pamer (tapi kalau tetep mau dibilang pamer ya silakan aja sih, bebas :)), tapi saya lebih suka blak-blakan, daripada dibilang: “Hapenya baru nih yeeee...” gara-gara mendadak bisa Instagram-an.  Makanya, beberapa saat setelah punya gadget baru itu saya minta ijin untuk norak dan songong di twitter. Ya meskipun saya tau nggak semua orang baca twit saya yang itu.

Di bio twitter, saya bilang: Like a cup of hot chocolate, I could be warm to comfort you, or too hot to burn your tongue. I mean it. Kadang saya bisa bicara sesuatu yang disetujui banyak orang, bikin yang galau jadi tenang, bersikap dewasa menghadapi sesuatu yang nggak enak, this is the warm hot chocolate. Enak, manis, menyenangkan. Tapi... Saya orang yang hobi banget komentar nylekit, dan saya yakin nggak semua orang suka sama komentar-komentar saya. Well, lidah pasti kebakar karena hot chocolate kita terlalu panas, kan?

Tapi kita nggak bisa memaksa orang untuk selalu suka sama kita, mengapresiasi yang kita kerjakan, atau bahkan nggak sanggup memaklumi (kalau nggak sampai memahami) bagaimana kondisi kita. Hmm, mereka kan nggak punya waktu untuk itu. Terlebih, saya punya tagar dan kultwit malam mingguan: #PutusinLakwes, yang membicarakan soal relationship, khususnya pacaran vs pernikahan. I know it’s been irritating for some people. Nggak semua orang suka (kalo nggak bisa diiang nggak ada yang suka, hahaha) sama tagar ini. Ada yang anti banget sampai nggak santai reaksinya :D

I’ve learned enough. Memang saya yang harusnya menahan diri dan bisa mengendalikan nafsu norak saya di socmed. Because people are tend to be judgmental (ih, kamu juga kali Sas! | Iya iya...), apalagi di media sosial. I’m not hoping my lost follower to be back. No. But I need to thank you guys, my friends, yang saya nggak tau kenapa judulnya ‘follower’, it sounds annoying, no? - yang dengan sabar men-skip twit-twit saya yang menyebalkan di timeline kalian :) I have to really appreciate that.

Mudah-mudahan Allah membantu saya meluruskan hati dan niat saya. Amin.

11.31, 02202013

Monday, February 18, 2013

Gus-Gus dan Islam Harmonis



Saya tengah membaca sebuah buku yang berisi kumpulan kata pengantar-yang tidak seperti kata pengantar- dari KH. A. Mustofa Bisri. Judulnya, Koridor. Ya. Harus diakui memang kata pengantar tulisan beliau tidak seperti kata pengantar pada umumnya. Beliau seperti memiliki ceritanya sendiri, kisahnya sendiri, yang meskipun relevan dengan buku yang dihantarkannya, namun seperti satu karya yang berdiri mandiri.
 
Ada satu pengantar yang menceritakan tentang sosok KH. Abdurrahman Wahid. Ya, Gus Dur. Beliau adalah kawan Gus Mus semasa kuliah di Mesir. Dari penuturan beliau, jelaslah mengapa Kiai yang mantan presiden itu begitu kontroversial.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui seperti apa keseharian Gus Dur, terlebih semasa kuliah. Namun dengan mengesankan, Gus Mus berhasil membuka mata saya atas kontroversi Gus Dur, terutama terkait pernyataan-pernyatan beliau. Gus Dur sangat cerdas, setidaknya begitulah yang saya tangkap. Kemampuan nalarnya melampaui zamannya, melampaui kemampuan rata-rata orang, melampaui peristiwa-peristiwa yang sama dan berulang. Itulah, mungkin, mengapa pernyataan-pernyataan Gus Dur sulit diterima kebanyakan orang. Bukan pernyataannya yang salah, mungkin kemampuan nalar kitalah yang ‘belum sampai’ di tataran nalar beliau. 

Saya teringat diskusi dengan kawan-kawan saya semasa kuliah, belum lama ini. Kami menyoal Nahdliyin ‘vs’ Ikhwanul Muslimin. Satu kawan saya adalah jebolan madrasah, sedangkan kawan saya yang satu lagi berasal dari keluarga yang kental ‘ikhwanul muslimin’-nya. Sampailah kami pada pembahasan soal Gus Dur. Teman Ikhwanul Muslimin saya berkata “Kan Gus Dur nggak solat, itu kata adiknya sendiri loh! Dia juga membuka kerjasama dengan Israel. Apa nggak sesat itu namanya?”. Saya terhenyak. Soal Gus Dur membuka hubungan dengan Israel, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang ‘nyleneh’ semasa menjabat sebagai Presiden saya tahu, tapi kalau Gus Dur tidak sholat itu, baru pertama kali saya mendengarnya. Tajam. Dan perasaan yang sama selalu saya rasakan ketika membaca web, blog, dan twit kawan2 Ikhwanul Muslimin yang lain. Saya sulit menemukan ketenangan di sana. Tapi soal Gus Dur sholat atau tidak, biarlah Allah yang menilainya.

Dalam tulisannya, Gus Mus bercerita. Upaya Gus Dur membuka kerjasama dengan Israel, dan pemikiran, sikap dan pernyataan lain yang membuat beliau dianggap sesat, adalah salah satu cara beliau untuk mengajak mereka ke jalan Allah. Mengajak, artinya kepada mereka yang belum berada di jalan Allah, ya termasuk para yahudi itu, ya (mungkin) para Tionghoa itu, ya para kawan-kawan nasrani, dan mereka-mereka yang belum mengenal Islam, belum mengenal dan belum berada di jalan Allah. 

Saya rasa, apa yang dilakukan Gus Dur mirip dengan cara para Waliyullah ( Wali Songo) menyebarkan islam di masa silam. Dakwah, syiar, tidak perlu tajam menghunus perasaan. Tidak perlu ketus menghapus hal-hal yang tidak sejalan. Tidak serta-merta mengharamkan, tidak menyeruduk dan meninggalkan keselarasan dan keberagaman. Kesembilan Wali itu menggunakan cara-cara yang halus, ‘membelokkan’ tradisi yang jauh dari Islami, membaurkan apa yang sesuai dengan ajaran Islam, bertoleransi kepada mereka yang dulu penganut Hindu agar simpati kepada ajaran Islam. Dan hasilnya? Hingga kini Islam menjadi agama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Cara ini tentu sulit untuk kita klaim sebagai kegagalan.

Sayangnya, sepertinya cara-cara ini kini tidak banyak dilirik. Orang berlomba-lomba menjadi sangat Islami dengan cara-cara yang menyakitkan. Menghujat sesat, memfatwa haram, membunuh keberagaman. Saya pribadi merindukan wajah Islam yang damai, yang bertoleransi dan menghargai agama lain, yang merengkuh tradisi menjadi sarana dakwah, yang menggandeng kebhinekaan menjadi kekuatan untuk menebarkan rahmat Allah di muka bumi. Bukankah Islam itu rahmatan lil ‘alamain (rahmat bagi semesta alam), bukan hanya rahmatan lil muslimin (rahmat bagi orang-orang Islam)? 

Maka apa yang dulu dilakukan Gus Dur, kini saya anggap sebagai cerminan dakwah yang menebar rahmat. Memberi selamat misalnya, tentu orang yang memberi adalah ia yang tangannya berada di atas, ia yang berarti lebih mampu, mungkin juga lebih dewasa, lebih mengayomi. Kalaulah memberi selamat hari raya agama lain dianggap sebagai lemahnya iman untuk ikut-ikut mengiyakan dan merayakan keyakinan mereka, maka izinkan saya menyampaikan apa yang pernah diungkapkan Prof. Quraisy Shihab tentang memberi selamat bahwa apa yang terucap bisa jadi tidak sejalan dengan niatan dalam hati, dan belum tentu juga ditangkap sebagai hal yang sama. Maksudnya, bila niat kita memberi selamat sebagai bentuk ‘tangan di atas’ dalam rangka menunjukkan wajah Islam yang harmonis, bukan sebagai upaya turut serta merayakan, kemudian kita ungkapkan, dan ditangkap oleh umat agama lain sebagai ucapan selamat, berdoalah semoga Allah menjaga iman kita, membukakan hidayah bagi mereka yang belum di jalan Allah, dan sungguhpun Allah Mahamengetahui.

Dalam buku Gus Mus itu, saya menemukan oase. Kehausan saya akan Islam yang ramah, santun, berpadu dalam harmoni keberagaman tanpa mengorbankan keimanan, perlahan terhapus.
Semarang, 18022103