Wednesday, August 24, 2011

Young and Married

Beberapa waktu lalu saya blogwalking ke beberapa Hijabers Community Comitee. Mbak-mbak berhijab yang cantik-cantik ituu… Awalnya Ghaida Tsurayya, terus Hijab Scarf, Dian Pelangi, Fitri Aulia, Kara, dan yang lain-lain. One thing that amazed me is… They’re all young and married. Goooshh… They’re like only early twenty and have certainly decided to marry.


Orange Weddingnya kak Kara (fotonya dari sini)

Dian Pelangi in her wedding dress (took from  kak Lulu's Blog)
Saya selalu excited sama kisah cinta mereka, cerita pre wedding mereka, prosesi pernikahannya sampai cerita mereka menghabiskan waktu dengan sang suami dan hamil dan melahirkan, dan punya anak… Awwww… Can’t adore moreee!!!
Superb Pre Wed Pics of Mbak Fifi Alvianto (taken from Hijabscarf)


Naksir berat sama foto pre-wed nya Mbak Hanna Faridl (taken from Hijabscarf )
Belakangan ini (mungkin karena blogwalking itu juga), saya juga jadi kepengen merealisasikan niat buat nikah muda. Kalo cita-cita menikah muda sih sudah tercetus dari jaman dahulu kala. Jaman SMP saya sudah merencanakan hidup saya 15 tahun ke depan. Usia berapa saya lulus SMP, SMA, lalu kuliah dan lulus kuliah. Setelah lulus kuliah kemudian bekerja, kira-kira dua tahun lamanya, sebelum menikah. Di Life Plan saya itu, saya berencana menikah pada usia 24 tahun. Everything seems easy when I had boyfriend. But, the single phase now, makes it harder to get it real. Hahaha.

Di saat-saat seperti ini (baca:lagi nggak punya calon suami) saya jadi terpikir untuk dijodohkan saja. Seriously. Saya tidak lagi berpikir bahwa perjodohan itu sesuatu yang buruk, kuno bak Siti Nurbaya, dan melanggar hak asasi manusia. Toh banyak di antara kita yang juga menjalin hubungan karena bentuk-bentuk perjodohan, meskipun yang menjodohkan adalah teman, mak comblang, situs perjodohan, koran… Apapun, itu tetaplah bentuk perjodohan. 

Menurut saya, bentuk perjodohan yang semacam itu lebih riskan. Kenapa? Karena mereka belum tentu mengenal kita dengan baik. Katakanlah mereka mengenal kita dan kepribadian kita, tapi mereka belum tentu mengenal keluarga kita dengan baik (pandangan saya, menikah itu bukan hanya menyatukan dua kepribadian berbeda, tapi juga dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda), bukan itu saja, mereka mungkin juga ‘hanya’ teman si pria yang juga belum tentu mengenalnya luar dalam. Apa yang mereka jadikan acuan perjodohan mungkin hanya data-data dangkal dan mentah ditambah sedikit observasi.

Saya sendiri, kalau (misalnya) dijodohkan, lebih memilih dijodohkan orang tua atau keluarga dekat. Keluarga yang saya sebut di sini adalah saudara yang telah menikah. Satu hal, orang tua dan saudara dekat (idealnya) mengenal kita lebih baik, mungkin lebih daripada diri kita sendiri. Mengetahui dan bahkan membentuk latar belakang keluarga kita. Hal yang lain, mereka sudah menikah. Sudah tahu bagaimana seluk beluk hidup berkeluarga, mengerti apa yang dibutuhkan untuk membentuk suatu keluarga. Yang lain lagi, if the matchmaking thingy doesn’t work, we can make sure that they won’t spread out the issue, since our disgrace is theirs too.

Keinginan dijodohkan juga semakin kuat setelah saya memutuskan untuk berhijab. Kayanya bakalan lebih asik kalo nggak pake pacar-pacaran deh. Udah capek duluan kalo pacaran kelamaan. Hehe… Kalo dijodohin kan ortu atau saudara akan cari yang cocok sama mereka dulu, baru saya yang adaptasi, kenalan dan lalu memutuskan, oke apa enggak. Hahahha…

Jadi inget sama kisah kakak saya. Udah lamaaaaaa banget pacaran sama pacarnya, dari jaman SMA apa awal kuliah gitu, tapi akhirnya kandas. Sampai di ujung batas waktu yang ditentukan untuk seorang pria layaknya menikah (meskipun nggak ada yang nentuin juga sih sebenernya), kelimpunganlah dia. Cewek yang lagi diseriusin, secara syarat memenuhi, tapi secara hati, saya dan mama nggak sreg. Batal lagii… Saya dan mama beneran berjuang keras buat nyariin si kakak cewek yang oke, yang sesuai sama kriteria mama dan juga kakak (sampai si kakak pasrah dan kita boleh mengesmpingkan kriterianya dia. Haha!). Saya, sebagai adiknya yang paling kece (karena emang cuma saya adiknya, hehe), ikut juga dalam mensukseskan audisi itu. Satu-satu cewek yang sudah didaftar kita samperin berdua, kita ajakin ngobrol, jalan, terus di akhir pertemuan ada evaluasi rahasia kita berdua dan laporan pandangan mata dari saya kepada mama. Tapi enggaaak nemu juga yang oke, dengan berbagai alasan.

Sampai akhirnya, si Kakak dicomblangin temennya and there they go… Mereka menikah dan sekarang sudah punya sebongkah manusia pipi yang lucuuu. Hehe… tapi itu juga melalui tahap seleksi yang cukup ketat dari saya dan Mama. Dengan sesajen novel AAC dan CD Mika idaman saya, si Mbak berhasil menaklukkan hati saya dan mama. Hehehe… Piss Mbak! Tapi di luar segala sesajen itu… di luar suaranya di telepon yang oke waktu kita wawancara… Di luar fotonya yang oke pas dikasih liat kakak… All the chemistry had took its place. 

My Big Brother's Wedding (wanna have that lovely inai tooo when my turn comes!)

Saya pada dasarnya bosenan, dan pacaran lama-lama itu kayanya bukan saya banget. Saya aja dulunya nggak percaya bisa bertahan punya pacar lebih dari 3 bulan (meskipun nyatanya sampai 2,5 tahun), dan kalaupun itu terjadi, itu menguras energi yang sangat besar untuk berargumen, berdebat yang nggak penting dan yang penting, mempertahankan, but in the end, it’s just… END. Mendingan energy-energi itu dihabiskan untuk membentuk sebaik-baik pribadi kita untuk bertemu sebaik-baik jodoh kita :) Kalau milih calon suaminya kaya kakak saya, menurut saya itu jauh lebih seru. List up the candidates, meet them, see if there’s any chemistry, decide to go on or stop. Sounds nice, and I know It’s gonna be fun and more challenging!

Monday, August 22, 2011

Di Jalan Masjid Ada Gereja

Ada Gereja di Jalan Masjid

Tidak jauh dari musholla

Kalau sulit menghargai yang sembahyang

Kalau sulit menghormati yang kebaktian

Boleh pindah ke kampung sebelah

Tapi di kampung sebelah ada klenteng

Dengan asap hio menyeruak kemana-mana

Kalau sesak nafas karenanya

Boleh pilih kampung lainnya

Yang mungkin ada vihara, ada pura

Kalau tidak bisa tinggal berdampingan bersama

Boleh pilih pindah Negara…

Muntaber, Balon Nemo dan Dump Truk (Edisi KP)

Selasa pagi sebelum berangkat kerja, seorang tukang balon gas lewat depan rumah kakak saya. Nggak tau kenapa saya kepengeeen banget beli balon yang bentuknya Nemo… Tampak sangat oranye dan menggemaskan. “Mama… Beliin balon itu maaa… Yang bentuknya Nemo…” Si Mama cuma ketawa, menganggap saya kekanakan. Saya sih selow aja, ketawa, meskipun dalam hati sebenernya pengen banget.

Hari itu saya keliling lagi sama Pak Jasa. Kali ini kami keliling ke perumahan di daerah Bojong. Sebelumnya kami ke tukang tambal ban dulu karena ban truk si Bapak bocor. Lamaaaaa menunggu, ternyata si paku nancep di ban dan nggak mau lepas. Dengan pasrah si tukang tambal ban melapisi ban luar pake berlapis-lapis potongan ban dalam dan menjahitnya, kita lalu melanjutkan perjalanan. Karena jalanan sempit dan ngambilnya sebentar-sebentar, saya memilih untuk tetap tinggal di dalam truk selama bapak-bapak petugas angkut mengangkat sampah. Tiba-tiba perut terasa nggak enak, pengen muntah, tapi tahan aja deh, takut ngerepotin. Karena udah siang, saya memutuskan untuk turun di tengah jalan dan nggak ikut ke TPA.

Random banget, saya nungguin bis di pinggir pertigaan, dan belom tau si bis akan datang dari arah mana. Akhirnya saya nanya bapak tukang becak, tidur dianya, lelap, mau bangunin tapi gak enak, tapi daripada celaka, nyasar, akhirnya saya tega-tegain. Kata si bapak, bisnya akan datang dari arah tepat di depan saya berdiri. Akhirnya saya berdiri aja di situ, nungguin bis. Agak lama yaa… Sempat terpikir untuk naik angkot dulu ke terminal baru naik bis dari sana, tapi perasaan saya bilang ‘terminalnya jauh, neng, pasti bayarnya mahal. Udah, tungguin aja bisnya biar langsung sampe di Purwokerto’. Nggak lama, si bis datang. Cihuuuyy…

Sampe di rumah, saya ngerasa nggak enak badan, perut saya makin nggak karuan. Akhirnya saya tidur aja sampe magrib. Cuma buka pake setenggak teh, saya tidur lagi karena pusing banget dan badan ngilu semua. Nggak lama… Hoeeeekkk…. Muntah aja gitu sayanya. Iyaaaa… gak nafsu makan sama sekali. Demam. Besokannya pas sahur, perut udah nggak karuan aja, mules, melilit, kembung, sebah. Makan sedikit nasi kaya biasa dan minum obat anti muntah dan obat maag sesaat sebelum imsyak. Eeehh… Pas adzan subuh, di kamar mandi, diareeee! Arrgghh… Komplet banget ini mah. Beres boker, saya… Muntah lagiii! Semuanyaa… Aaawwww… Nggak puasa deh tanggal 17 agustus itu. Orang pada upacara, saya meringkuk di tempat tidur seharian. Cuma bolak-balik kamar mandi aja karena diare. Positif nih. MUNTABER! Ck!

Besokannya, si tukang balon lewat lagi. Eehh… Si mama beliin saya balon yang bentuknya Nemo ituu, dan saya langsung merasa baikan. Hahahha… Apaan bangeet coba. Sakit muntaber, dugaan penyebab: kepengen balon Nemo.

Si balon Nemo yang sudah mulai mengempis karena tekanan batin...

Saya berjuang agar si balon Nemo tidak jatuh ke tangannya, tapi dengan dewasanya (baca: TUA) dia berkata: Buat bareng-bareng ya Tante... Besok Rubi beli lagi deh... Kemaren nggak ditawarin siih... *MALU!


Tiba-tiba hape bordering, sms dari Pak Heru, salah satu supir angkutan sampah di PU. Beliau menanyakan, kapan saya mau ikut beliau keliling ngangkutin sampah. Saya malah curhat kalo lagi sakit dan belom tau kapan bisa ikutnya. Tanpa di duga, begini baesan smsnya: “Ga apa mbak, trek saya jg lagi opnamd benkel, ko ky janjian y njenengan muntaber trek kulo bodol, y semoga cpt sembuh y mba” Woooowww… 2 mingguan di lapak PU dan saya mulai kompak sama truk sampahnya. How nice is thaaatttt????!!! Kaaaannn???? Hahahahha…

Saturday, August 20, 2011

Personal Review: Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia

Alhamdulillaah… akhirnya setelah sekian tahun lamanya, saya berhasil menyelesaikan membaca buku ini. Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia adalah otobiografi presiden pertama Indonesia. Yang saya baca ini adalah cetakan pertama alih bahasa dari buku aslinya yang berjudul “Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams”. Seingat saya, saya menemukan buku ini pertama kali waktu saya duduk di kelas 5 SD, di rak buku milik kakek saya. Seingat saya juga, waktu itu adalah saat dimana saya mulai berminat membaca buku. Saya pikir, buku ini tebal, pasti tampak keren kalau bisa menyelesaikannya. Hahaha. Di luar itu, saya memang selalu tertarik kepada cerita patriotik dan nasionalis bangsa sendiri. Jadilah buku itu saya bawa pulang ke Semarang. 




autobiografi Bung Karno


Ternyata bahasa politik dalam buku ini terlalu berat untuk anak usia 11 tahun seperti saya (waktu itu). Saya gagal menyelesaikan membaca buku itu, bahkan sampai tahun-tahun berikutnya. Buku ini sudah beberapa kali berpindah tempat karena saya sering membawanya berkeliling kemana saya pergi untuk mengisi waktu luang saya. Pertama di Semarang, lalu di Purwokerto, lalu kembali ke Semarang lagi, sampai akhirnya dibawa oleh keponakan saya. Dan disinilah, saya menemukannya kembali, di meja belajar keponakan saya. 


Otobiografi ini menggambarkan secara cukup lengkap mengenai kepribadian Bung Karno, jalan hidupnya, kisah cintanya, langkah politiknya dan hal-hal ain yang mungkin tidak banyak diketahui orang awam. Saya sendiri termasuk ‘awam’ kalau tidak bisa disebut ‘fanatis-Sukarnois’. Pribadi Bung Karno yang saya kenal sebagian besar berasal dari cerita Mama saya yang begitu mengidolakannya, sisanya dari dokumenter epik yang ditayangkan tiap hari besar kenegaraan dan buku pelajaran sejarah. Dan beliau adalah pencerita yang ulung, dan jago masak, sehingga tercampur antara keduanya. Beliau bisa menyajikan cerita dengan bumbu yang lezat dan bisa diterima di telinga siapa saja dengan perasaan gembira atau yang sesuai dengan bumbu yang ditambahnkannya. Dalam alam pikiran saya, Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang gagah, tampan dan sempurna tanpa cela, pun dalam kebijakan politiknya.




Ada yang ingat pernah melihat gambar ini dimanaa gitu?




Membaca buku ini benar-benar membawa saya ke puluhan tahun yang lampau, mungkin juga karena ejaannya yang masih kuno dan bukunya yang memang sudah usang. Ulasan ini mungkin tidak dapat mewakili keseluruhan isi bukunya dengan objektif. Karena ini memang blog subjektif saya, hehe… Tapi membaca buku ini telah memperkaya kazanah sejarah saya tentang kemerdekaan Indonesia, khususnya peran Bung Karno dalam mewujudkannya dan mempertahankannya. Buku ini memperlihatkan kepada saya banyak hal tentang strategi politik, perang dan diplomasi, serta telah berhasil memompa nasionalisme saya.
Kalau saya bilang usang, saya bersungguh-sungguh mengatakannya...
Edjaan Lama

Beberapa tahun yang lalu, saya melihat buku yang sama, namun dalam cetakan yang ke-sekian, dibuat dalam beberapa jilid, dibanderol seharga lebih kurang 800 ribu rupiah. Saya sangat bersyukur menemukan buku ini beberapa tahun lalu di rak buku kakek saya, dan tergerak untuk kembali membacanya beberapa hari setelah hari ulang tahun Republik Indonesia. MERDEKA!!!

Wednesday, August 10, 2011

Day 7-8: Can't Stand the Stupidity!

Hari Senin kemarin, saya belum pernah membenci hari Senin seburuk kemarin. Mungkin pernah, tapi saya lupa. Kemarin itu entah mengapa setelah sahur saya online dulu, jadi tidurnya agak telat. Alhasil saya baru bangun jam 7 pagi, sementara saya musti sampe di kantor (cieee) jam 8. Perjalanan 45 menit. Sebenernya sih masih cukup waktu buat mandi dan siap-siap. Tapi nggak tau kenapa kepala rasanya dipaku ke bantal, nggak bisa copot (halah alasan!) Akhirnya, beneran deh, saya bolos (baca:ijin) hari Senin kemarin. Saya sms ke pak Ka-Seksi, Pak saya nggak enak badan, mohon maaf hari ini saya ijin dulu. Nggak diduga, si bapak balesin (dalam bahasa Jawa): Iya Mbak, ndak apa-apa, moga-moga cepet sembuh ya, cepet ketemu lagi. Saya nggak tau musti menanggapi bagaimana sms si bapak. Ketawa aja sambil booking mbak-mbak tukang pijet.

Keesokan harinya, saya nggak mau buang waktu lagi... kalau mengingat apa yang saya tulis di notes ini, saya jadi merasa rugi melewatkan satu hari berpetualang di bis AKDP Purbalingga-Purwokerto. Hari ini di kantor, seperti biasa, saya sibuk nganggur. Cuma nyalain laptop dan buka FB. Sampai si bapak Ka-Seksi bertanya soal kesehatan saya: Sudah sembuh Mbak? Sudah Pak, Alhamdulillah. Saya berniat menanyakan soal data-data yang saya butuhkan, eh malah dipanggil ke ruangannya.

Selesai saya tanya, giliran si bapak yang cerita. Panjang lebar tinggi dalam mulai dari soal saudaranya yang bermasalah sama tugas akhir, anaknya yang orang KPK, anak buah yang sirik sampai soal pesantren. Ada kali 45 menit saya duduk di depan meja si bapak, mendengarkan dia bercerita sampe pusing. Dalam arti yang sebenarnya. Agak berkunang-kunang saking konsentrasi ngeliatin bapaknya. Tapi banyak sisi positif yang bisa diambil dari ceramah si bapak hari ini:
1. Senantiasa jujur dan benar, itu modal utama sukses di mata Alloh, 
2. Dermawan dan bersikap baik pada sesama, maka mereka akan memberikan lebih dari yang kita harapkan, 

Beliau juga mengajarkan beberapa hal soal doa-doa minta jodoh dan dzikir-dzikirnya (bapaknya tau banget saya dari kemaren lagi ribut soal jodoh hahahah) bahkan berjanji akan mem-forward tausiyah yang bagus ke nomor hape saya, juga ngasih tips usaha dan bisnis bertani dan beternak. Tiba-tiba bapaknya diam sesaat dan bilang kalo muka saya mirip sama dia, bulat. Dan istrinya kaya’ saya, gendut. Eh, makasih banyak loh paaakk... Soal data-data itu, bapaknya bilang, minta saja sama mas Anto.

Ternyata hari itu mas Anto masuk kantor (biasanya enggak). BTW, mas Anto ini kalo menurut saya mirip sama Bang Bernath TL’07 hahaha... Gayanya asoooy dah, orangnya masih muda, wajahnya nggak mengecewakan, sayang enggak puasa. Hehe... Intinya, besok saya diperbolehkan mengorek-ngorek laptopnya dan mengambil data-data yang saya butuhkan.

Nggak kerasa, udah jam 1 aja. Setelah solat dengan meminjam mukena bu Bekti (lupaa bawa mukena), saya dianter mas Tio sampe di Bancar. Abis itu naik angkot. Di Angkot saya ketemu sama 2 cowok SMP yang masih pada labil gitu, sibuk ngomongin temennya, eh, di pinggir jalan ada gebetannya. Si anak yang satu tanya, kenapa nggak dipanggil?, satunya menjawab: nggak ah, malu, banyak temennya. Hahhaaha... Jadi inget jaman SMP gak siih... Saya dulu jaman SMP juga malu2... Meskipun udah tahun 2002, waktu itu saya masih pakai metode surat menyurat dan telepon misteri. NGGAK BANGET!

Sampai akhirnya, angkot disetop sama seorang gadis SMA, pas lagi lampu ijo tinggal beberapa detik lagi. Si supir angkot yang nggak pengen keduluan lampu merah meminta si gadis buat lebih cepet masuk ke dalam angkot, eeeehhhh... Si adek malah lelet banget jalannya. Ini saya paling nggak demen. Di angkot, pasti banyak orang dengan beragam kepentingan dan urgensi. Sangat tidak etis kalau kita berlama-lama sementara orang lain menunggu dan terburu-buru.

Sampai di terminal, alhamdulillah ada bis yang lagi ngetem dan hampir penuh. Saya yang lebih suka duduk di depan, nggak kebagian kursi dan akhirnya harus rela duduk di belakang. Sebelah saya adalah mbak-mbak berjilbab yang berseragam pemda (belakangan saya tau, ternyata dia guru SD). Saya melempar senyum.

Bis mulai berjalan dan sang kernet menagih ongkos. Si mbak dengan santai mengulurkan lipatan uang ribuan yang saya nggak tau berapa jumlahnya, dalam diam. Saya sendiri mengulurkan uang sepuluh ribuan, si kernet mengangkat dagu tanda bertanya ’mau berhenti di mana?’ Terminal Purwokerto, saya bilang. Si kernet mengangsurkan kembalian, selembar dua ribuan dan tiga lembar seribuan. Wooow... tarif berubah seperti waktu pertama saya naik bis! Mungkin tergantung inflasi yaa tarifnya... Canggih nih si kernet main saham.

Saya bertanya sama si mbak berjilbab putih sebelah saya: Berapa tarif terminal Purbalingga-Purwokerto. Jawabannya mengejutkan: Kalau pelajar 3.000, paling mahal 4.000 saya tersenyum kecut dan tertawa kecil mendengar jawaban si mbak. Dengan polosya saya mengaku: ‘Kemaren saya disuruh bayar 7.000 mbak’. Saya yakin si Mbak sebenernya pengen banget ketawa guling-guling di dalem bis, tapi mustahil, bisnya sempit.

Si Mbak dengan bijaksana memberikan tips: “Kalau bayar, diem aja, nggak usah bilang mau turun di mana. Kalau kernetnya tanya, baru dijawab mau turun dimana. Kalau kernet minta duit lagi, bilang aja, biasanya juga segitu mas. Kalau si kernet ngeyel, kasih aja seribu lagi...” Waaawww... Mbaknya sudah menguasai medan pertempuran bangeet! Saya takjub dan merasa bodoh pada waktu yang bersamaan. Lalu kami berpisah di Sokaraja. Hiks :’(

Sesampainya di terminal, saya langsung menuju pintu keluar, kali ini sudah belajar dari kesalahan kemarin (kemarin saya nyasar, mau keluar malah ke pangkalan bis-bis AKAP). Langsung disambut sama tukang ojek, tukang becak dan tukang angkot. Daaan... Ketemu lagi saya sama si pak supir Hari Jumat kemarin... Kali ini si bapak ngetem (agak) lama (sekali). Kocak banget deh, di sebelah angkot yang saya naiki ada sopir lagi ngetem juga, mereka berdua sama-sama udah uzur, rambutnya putih. Kernet angkot saya dengan tengil mengomentari: ‘Nah paak. Kalau rambut sudah berwarna (baca:putih) tuu rejekinya udah laiiin’ Si bapak angkot sebelah nggak mau kalah: ‘Ini belom lebaran aja, Tunggu aja kalo lebaran!’ (udah aja gitu pak? Nungguu?). Si kernet tengil ganti mengomentari pintu angkot sebelah yang keropos dan melambai-lambai : ‘Taun rongewu sewelas koh esih ana pintu kaya kuwe’ Huahahahaha... Ngakak saya. Sumpah tengil abis nih kernet.

Nggak lama (lama deng) angkot berjalan, seperti biasa saya minta turun di tugu persimpangan Jalan Merdeka. Sampai di sana, saya berniat jalan kaki, meskipun celingukan juga cari becak pak Sono, langganan kakak saya, siapa tau udah jemput. Samar-samar saya lihat sih ada, tapi saya ragu, soalnya si pak becak lagi tidur. Kan nggak lucu kalo udah ngebangunin ternyata salah orang dan nggak jadi naik. 

Akhirnya saya jalan kaki. Saya udah optimis dan semangat menggebu,’ah... dekeet’ pikir saya. Ternyata, beneran nggak deket-deket amat. Saya senyum-senyum sendiri meratapi kebodohan saya menolak ajakan tukang becak genit beberapa ratus meter yang lalu. Sekarang sudah setengah jalan, malu kalo mau naik becak. Tapi napas mulai ngos-ngosan dan pandangan berkunang-kunang. Saya terus tersenyum dan berjalan terus seangkah demi selangkah. 

Tiba-tiba ada mobil pick up klakson-klakson. Waaa ternyata itu mobilnya Papa Yantooo (kakak ipar saya, di rumahnyalah saya tinggal)!!! Subhanallooh... Ditengah masa kritis, Alloh mengirimkan bala bantuaan... Haaa Terima kasih ya Allooh, udah pingsan di jalan deeh kalo nggak ada mobil Papa Yanto! :D

Itulah beberapa kebodohan saya yang terungkap dalam dua hari terakhir ini...
Sampai jumpa di postingan berikutnyaa :D

Day 5-6 (Masih Edisi KP (".))

Hee… Akhirnya ngerasain juga keliling bareng truk sampah siang-siang terik pas lagi puasa… Hwaa… Banyak ceritaa… Oke… dimulai dari hari ke 5 dulu deh…

Akhirnya saya ngobrol sama Pak Solechan, Kepala Seksi Pengelolaan sampah… Bapaknya baik dan kaya raya… hahahah… Begitu saya bilang mohon bantuannya untuk kontak dengan bapak-bapak supir dump truck, Pak Lechan langsung mengiyakan. Meskipun awalnya agak bingung gimana caranya nganter saya pulang setelah dari TPA, akhirnya dapet jalan keluarnya, saya ikut truk sampah yang poolnya di kantor PU. Saya dijanjikan untuk keliling bersama Pak Supir yang bernama Pak Kasembadan. Janjian jam 7.30 pagi di kantor PU.

Waktu saya bilang saya pengen ikut semua truk, si Bapak menyarankan untuk saya tinggal di rumahnya karena beberapa ritasi truk dimulai pagi-pagi buta. “Tinggal pilih lah Mbak, rumah saya ada 4, mau yang di mana terserah, ora ditarik bayaran ikih… Saya ya ngerti lah njenengan Mahasiswa, anakku ya mahasiswa, jadi saya akan bantu sebisa saya. Temenan mbak, ora papa, malahane nambah sedulur…” Waa… Saya terkesima atas beberapa hal:
Bapaknya punya rumah 4
Bapaknya baik hati, nawarin penginepan gratis
Bapaknya semedulur

Itulah yang membuat saya nyaman tinggal di sini, Banyumas dan sekitarnya… Orangnya itu tadi, semedulur, senang bersaudara, di angkot, di bis, di terminal, di kantor… Hampir semua orang menganggap orang yang baru dikenalnya adalah saudara baru. Mungkin di daerah lain juga sama, well ini Indonesia, kan?

Lanjut waktu perjalanan pulang, lagi-lagi saya naik bis… Di tengah perjalanan, bis mengangkut anak-anak sekolah yang baru saja pulang, hari itu hari Jumat, karyawan kantor dan anak sekolah pulangnya barengan, bis penuh sesak. Kursi sebelah saya yang kosong tiba-tiba diduduki oleh seorang gadis berjilbab, berseragam Pramuka. Anak sekolah, pikir saya. Daripada bete, saya melempar senyum dan bertanya, mau turun di mana? Dia menyebutkan nama daerah yang saya enggak tau tempatnya tapi saya anggukin juga, dia menjelaskan, bahwa rumahnya di dekat puskesmas lalu sebelah kirinya lalu… Saya tetep nggak paham hahahah…

Saya melirik badge namanya yang terlihat hanya huruf P, O dan garis vertikal, mungin N, namanya PONIRAH, saya sok tau. Dia bertanya apa yang saya lakukan, saya jawab, saya tidak melakukan tindak kriminal, eh enggak deng, saya bilang, lagi PKL.

“Ooh… Mbaknya kuliah ya? Di mana?” tanyanya

“Iya, di UNDIP Semarang” dia bilang ooh, tapi saya melihat wajahnya yang seakan-akan berkata “itu di mana mbak? Saya nggak pernah denger”.

Lalu dia bertanya lagi: “Kemarin rangking berapa mbak?” Lalu saya curiga, jangan-jangan anak ini belom bisa membedakan tingkat pendidikan, mungkin di Purbalingga Pendidikan dasar itu dari SD sampe kuliah. Hebat, mungkin di sini kuliah dapet BOS juga. Gratis. Huhu, saya langsung istighfar, yang barusan itu nyela banget… Lalu saya jelaskan tentang system IPK di dunia perkuliahan. Dia ah oh ah oh, jadi saya anggep dia paham.

Sampai dia bercerita kalau dia juga PKL, di kantor polisi, terusdi bilang: “Aduh,saya pusing mbak, di kantor banyak yang naksir, ya saya bilang aja, saya di sini mau kerja, bukan cari pacar…” DAHSYAAAAT pikir saya, ajegile ini si Adek. Percaya diri tingkat tinggi. Oke banget. Lalu dia memperkenalkan diri, “oiya mbak, nama saya POLWAN” Saya tersenyum dan berpikir, nama yang unik.
“Waaah… sering ketuker dong kalo di kantor… Dipanggil Polwan yang nengok satu kompi…” Saya jayus.

Berita baiknya, hari itu saya berhasil naik angkot !!! (YEEEEYYY YIPPPIEE HOREEE) yang ditinggal supirnya Jumatan (GUBRAAAAKKK). Tapi Alhamdulillah ada angkot lain dengan trayek yang sama datang, kayanya si Supir udah telat jumatannya jadi dia narik lagi. Angkotnya pelaaaaan bangeett.. mjungkin nyari penumpang juga karena cuma saya yang naik. Singkat cerita, saya sampai di rumah dengan selamat dan misi naik angkot sampai dekat rumah berhasil.

Keesokan harinya, demi memenuhi janji dengan pak supir truk, saya nggak tidur lagi setelah sahur, langsung mandi dan siap-siap lalu berangkat. Sampai di Kantor, masih sepi, pintu kantor masih terkunci, saya tunggu di teras sambil menunggu si Truk datang. Saya telepon pak Solechan, memastikan , beliau enggak lupa bilang sama pak mBadan kalo hari ini saya mau ikut muter ritasi. Beliau bilang, tunggu aja mbak, truknya warna biru. Saya celingukan, nggak ada truk warna biru.

Akhirnya datang satu truk tanpa muatan tanpa petugas angkut, sepertinya baru saja menyelesaikan rute pagi. Gawat, saya telat, telat poll. Di kabin supir ada dua orang. Karena nggak tau pak mBadan yang mana, saya Tanya sama si kernet dan supir truk yang baru datang itu. “Pak, Pak Kasembadan itu yang mana ya?” Mereka berdua lalu menjelaskan kalau Pak mBadan sudah berangkat jam 7 pagi tadi dan kernet ini kernet pak Mbadan yang juga telat. Lidah saya kecut. Si supir mencoba menelepon pak Mbadan, tapi nomornya nggak aktif. Yasudah, saya bilang, sudah Pak, nggak apa-apa, saya bisa ikut yang agak siang. Dalam hati saya dongkol, tapi yasudahlah, saya nggak mau ngerepotin.

Saya nunggu di kantor, sambil nonton Sinchan, terkantuk-kantuk, sampai pukul 9.30, truk yang dimaksud datang. Supirnya bernama Pak Jasa. Hari ini, katanya, dia sudah menyelesaikan rit pertamanya, dan yang kedua ini, dia akan pergi mengangkut sampah dari sebuah perusahaan wig dan perumahan tentara. Jaraknya cukup jauh dari kantor PU ke pabrik itu. Sampai di pabrik, ketemu satpam yang senyam-senyum. Malah ada yang nanya, “Ibunya ikut, Pak?” Saya penasaran ibu apa nih yang di maksud??? Si Bapak menjawab:”Ibu saya di rumah, ini mbaknya lagi PKL”. “Ooooh… kirain ibunya…” Saya pegang-pegang pipi, belum pernah saya punya keinginan ngaca semenggebu saat itu, penasaran, apa yang membuat si mbak satpam itu berkesimpulan kalau saya ‘ibunya’ si pak Jasa. Pak Jasa mengulurkan uang Rp 20.000 ke mbak Satpam tadi… Buat apa? Jawabannya nanti, di seminar KP saya.

Kita lalu berangkat menuju Asrama YONIF. Awalnya saya bertahan duduk di samping pak Supir, lama-lama saya turun juga, pengen ngobrol sama yang ngangkut sampah. Hari itu, panas minta ampuun… Dan di Yonif itu jarang pohon yang besar di dekat TPS mereka. Kasian bapak-bapak itu, capek, panas, dan hebatnya, mereka PUASA… Subhanalloh, semoga Alloh menambah ganjaran bagi mereka, para ahli ibadah pencari nafkah bagi keluarganya :)

Di TPS ke tiga, saya mulai kepanasan,padahal kata mereka, sampah yang mereka angkut hari itu terhitung sedikit karena bapak-bapak tentaranya lagi tugas ke Ambon. Phhewww… Yang mereka bilang sedikit itu enggak sedikit juga sebenernya. Dan yang lebih repot, sampahnya dibakar, jadi yang di TPS itu tinggal abunya… Fuuuhhh… Selesai 5 dari 25 TPS (karena hari itu jatahnya cuma segitu) langsung kita capcus ke TPA.

Sebelumnya sudah diceritakan kalau TPAnya memang jauh, tapi saya pikir, Purbalingga kan bukan kota besar, sejauh apa emang TPAnya? Tapi ternyata jaraknya sanggup membuat saya ketiduran di truk, dengan kaca truk terbuka dan mulut saya yang menganga ini terlihat sama orang-orang, mungkin kemasukan lalat juga. Aib.

Sampai di TPA saya bangun. Hahahha… Langsung berkomentar “Waaa… ini TPAnya yah pak, sebelah mana proyeknya?” biar nggak keliatan bangun tidur banget. Padahal mungkin saya tidurnya sampe ngorok, nggak mungkin si Bapak nggak tau. Langsung terlihat oleh saya hamparan geotekstil. Truk Cuma sebentar di TPA, menurunkan muatan jadi mudah karena bak truknya hidrolis, jadi bisa diangkat gitu, buat main jungakt-jungkit apa perosotan kayanya seru. Abis itu truk cabut lagi ke tempat cuci.

Jangan membayangkan car wash otomatis yang pake salju gitu, ini cuma rumah kecil dengan keran dan selang air di muka rumahnya. Si Bapak meminta saya turun dari truk, “Tunggu di luar dulu, Mbak”.

Saya lalu turun dari truk dan duduk di bangku panjang di teras rumahnya. Rumahnya sederhana, berdidnding bata yang tidak berplester, lantainya tanah. Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki. Down Syndrome. Saya tersenyum kepadanya, dia diam saja. Saya memalingkan wajah, tidak ingin melihat dia memandang wajah saya yang iba kepadanya. Tapi dari sudut mata saya, saya tahu beberapa kali dia memperhatikan saya memencet-mencet tombol ponsel. Namanya Wawang… Yatim piatu. Dia adalah adik si pemilik rumah, yang adalah petugas penyapu. Begitu cerita Pak Jasa. Petugas pengangkut nampaknya sudah akrab dengan Wawang, mereka bertanya apa dia sudah makan siang itu. Wawang tidak makan. Wawang puasa…

Day 4 and Half of Yesterday (Edisi KP: Kerja Paan tuh (".))

Kemarin, untuk yang kedua kalinya saya pulang naik angkot disambung bus dari Purbalingga ke Purwokerto. Pertama kali naik angkot dan bis... Hum... Semua, oke, supirnya baik dan nggak ugal-ugalan kaya di Semarang. Sampai saya tanya,
"Berapa tarif angkot dari tempat saya naik sampai ke Terminal Bis Purbalingga?" 
Dia menjawab "1000".
Sesampainya di terminal, saya kasih uang 1000an ke bapaknya... Eh, tau2 si bapak komen: "Looh kok cuma 1000?" *dengan logat ngapak yang super gaul. Tanpa berdebat lebih panjang dan mengurangi pahala puasa, saya kasih lagi uang seribuan lagi.

Saya langsung turun dari angkot dan segera naik ke bis tujuan Purwokerto. Di tengah perjalanan, ada 2 orang pengamen masuk. Penampilannya sangar, perpaduan antara Charlie ST 12 dan Aziz Jamrud... oke punya. Mereka nyanyi lagu religi berbahasa Jawa, kayanya sih ciptaan sendiri... Saya menahan tawa karena salah satu bait syairnya berbunyi....
Walah, saya lupa, intinya nyindir penumpang yang pura2 tidur supaya nggak ngasi duit. Hahahha... kocak abis tapi sangar. Oiyaaa mereka punya tagline loooh: Ikhlas dari Anda, Halal bagi kami... cieeee... *rasanya pengen nge cie-ciein mereka tiap kali mereka ngomong gitu. Tapi takut digorok ah.

Singkat cerita, sampe deh di Terminal Bis Purwokerto, udah janjian sama mama buat dijemput. Ternyataaa... terminal bisnya gede banget dan nggak seperti yang saya bayangkan. Turun dari bis, celingukan nyari jalan keluar. Sepanjang jalan dari turun bis ke jalan keluar, entah karena saya nampak seperti gadis tak berayah yang berjalan tanpa tujuan atau bagaimana, semua kondektur angkot bertanya: Mau kemana mbak? Ayo mbak? Dan dengan senyum saya menjawab. "Sudah dijemput,Pak..." Tapi ada kondektur yang nekat bertanya, "Mau kemana?" 
Saya jawab, "Mau ke Palem Pak, belakang SMA 2."
Si bapak menjawab: "Oooh... Itu naik D2 mbak, nanti turunnya di tugu Polres. Jalan sedikit." (Well, FYI, yang dibilang bapaknya sedikit itu sekitar 1 km jauhnya... hahaha... )Saya senyum. Okelah buat referensi besok kalo pulang naik bis lagi, saya bisa naik angkot D2, jadi kalopun minta jemput lebih dekat daripada harus bermacet-macet ke terminal.

Akhirnya saya pamit sama bapak2 kondektur dan sopir angkot yang baik hati lalu jalan menuju pintu keluar. Jalan tempat saya keluar itu jauh dari gerbang utama terminal, saya harus jalan lumayan jauh sampe ketemu jalan raya. Hahahaha... Dan ternyataa... Mama saya enggak tahu tempat itu di mana. Setelah berapa lama telfon-telfonan dan menunggu di pinggir jalan. Akhirnya mobil Mama keliatan juga...

Keesokan harinya, saya pulang naik bis lagi. Sepi banget penumpangnya. Cuma 3 orang termasuk saya.Sesaat menunggu, ada bapak-bapak yang, maaf, tunanetra naik ke atas bis dan meminta-minta, dia susuri bis dari depan dan menepuk pundak mas-mas yang baru saja duduk. (berbicara dalam bahasa Jawa Banyumasan) “Maaf Mbak/Mas... Mohon maaf yaa... saya nggak bisa lihat ini... Kayanya mas-mas ya? Terimakasih banyak ya Mas...” sambil menengadahkan tangan.Si mas memberi uang receh, dan si bapak berterima kasih lalu berjalan menuju ibu yang duduk di kursi sebelah, saya memalingkan muka, nggak tega melihat kalau-kalau si ibu nggak ngasih uang. Saya merogoh kantong ransel dan menemukan uang receh, saya kasih uang seketemunya itu. Si bapak masih menebak2 jenis kelamin si pemberi lalu berterima kasih dan turun dari bis.

Si ibu yang duduk di kursi sebelah terlihat gelisah dan terus bertanya kepada si supir, kenapa bisnya belum berangkat juga. Saya kasihan juga sama si supir, karena penumpangnya baru 4 orang, bisa jadi dia merugi karena mengangkut penumpang yang jauh lebih sedikit dari kursi yang tersedia. Saya santai, menikmati suasana terminal sambil lihat kanan kiri. Tidak ada yang saya tunggu atau buru, jadi saya pikir, tidak masalah menunggu beberapa menit sampai bis si bapak terisi paling tidak setengahnya. Tanpa disangka, si bapak berangkat juga dengan penumpang yang cuma 4 orang. Saya salut sama bis-bis di sini yang nggak ngoyo cari penumpang, setidaknya itu yang saya lihat dari 2 bis yang saya tumpangi.

Di tengah perjalanan, seorang nenek naik ke dalam bis dan duduk di sebelah saya. Nenek ini, sebagai orang desa, cukup stylish, tas jinjingnya oke, meskipun tidak bermerk, mungkin dibelii di pasar tradisional, tapi modelnya nggak kalah sama punya ibu pejabat. Padahal, nenek ini mungkin sudah berumur 70an tahun. Si nenek berbincang dengan salah satu penumpang yang dikenalnya, dan bercerita soal menantu dan tetangganya. Si kondektur bertanya, "Di mana eyang mau turun?"
"Di kelenteng Sokaraja, tolong saya dibantu menyeberang ya mas, saya sudah tua", katanya. Dengan wajah ramah, si kondektur berkata: "Iya eyang, malah kebetulan..." 
Yang saya tangkap dari kalimatnya, mungkin, si kondektur bersyukur, dia bisa menambah pahala dengan membantu si nenek menyeberang. Saya terenyuh.

Di depan kelenteng, si nenek turun, tapi ternyata pak kondektur tidak jadi membantunya menyeberang. Saya nggak tau kenapa. Bis berhenti untuk cari penumpang, si kondektur turun bis dan berorasi. Nihil. Yang ada, kami semua diminta turun dan pindah bis. Dia bilang, ongkosnya sudah dbayarkan ke bis yang satunya. Semua turun, tanpa protes, dan naik ke bis baru yang dimaksud. Bis berjalan lambat, lebih lambat dari bis yang saya naiki kemarin.

Sesampainya di terminal, dengan bekal info angkot yang akan dinaiki, saya dengan mantap dan yakin menjawab: D2 waktu ditanya, "Mau naik apa mbak?" Tapi kondektur-kondektur yang saya temui kompak bilang, "D2 di sini jarang mbaak... Naik ojek saja, atau minta dijemput". Karena sudah lelah dan mengantuk, jadilah saya telepon mama dan minta dijemput. Sekali lagi, saya harus berjalan menuju pintu keluar.

Di tengah jalan saya ketemu angkot D2 yang lewat begitu saja... 1. Saya tersenyum konyol dan lanjut berjalan. Itung itung olahraga, saya berjalan beberapa meter lebih jauh dari tempat saya di jemput kemarin, sampai di jembatan bawah pohon waru. Sambil menunggu bagai anak hilang di jembatan, saya melihat-lihat sekitar, kadang nomong sendiri, kadang senyum-senyum sendiri. Saya khawatir orang menyangka saya gila, tapi daripada kesurupan karena melamun,kan...

Selama saya menunggu, angkot D2 yang lain lewat lagi... 2 unit... Saya tersenyum. Hari itu, saya bertekad nggak marah-marah, karena saya sudah capek dan ngantuk. Lebih baik energi disimpan supaya selamat sampai di rumah. Ada beberapa supir yang klakson-klakson menawarkan angkutannya, bapak-bapak becak yang menawarkan untuk pergi ke Sokaraja (Pak... Itu namanya saya balik lagii... Saya mau pulang paaaakkk....), mas-mas supir pick up yang kasih lampu (mungkin saya nampak seperti karung beras tergeletak di pinggir jalan), sampai bapak-bapak penjual getuk yang menawarkan getuknya dan bertanya saya mau kemana. 

Saya berpikir, apakah wajah saya sebegitu memelasnya, sebegitu hampa-tanpa-tujuan-nya, sampai-sampai semua orang yang lewat melihat dengan tatapan iba. Ckckck... Saya memang lapar sih, tapi saya baru tau kalo muka lapar saya benar-benar bisa mengundang rasa iba bagi yang melihatnya. Akhirnya mobil mama terlihaaat! Saya pulang.

Hari ini di kantor, suasana mulai mencair, saya lebih banyak ngobrol dengan beberapa pegawai. Beberapa mengajak saya bersalaman. Pak Bambang, kepala seksi pertamanan mengajak saya ngobrol, soal rumahnya, dia cerita soal komplek perumahannya yang menurutnya nyaman, penghuninya kompak dan saling nyengkuyung, menyokong. Bercerita juga soal rumah warisan orang tuanya yang terlalu luas sehingga dia memilih untuk mengontrakkannya. “Iya Pak, kalo rumah besar capek nyapunya” kelakar saya. Si bapak tertawa kecil. 

Pagi itu saya berkenalan juga dengan pak Solichan yang ternyata kepala seksi pengelolaan sampah. Dia menawarkan untuk membantu saya mengatur jadwal keliling TPA. Juga dengan mas Tio , yang rumahnya ternyata berada di dekat rumah nenek saya. Dia bahkan tahu, beberapa waktu yang lalu, saudara saya menikah.

Hari ini saya memberanikan diri menyetel MP3 dari laptop saya...

KP (Kerja Paan tuh)...day 1-3 (“.)

Seriously...
Sekarang saya dan beberapa teman yang lain sedang menjalani proses kerja praktek. Beberapa ada yang sibuk banget, sampai nggak sempet buka fesbuk. Beberapa ada yang pekerjaan utama di perusahaan tempat ia bekerja adalah operator facebook. Fulltime.

Saya sendiri termasuk Balance. Dari masuk kerja sekitar pukul 8, saya (pura-puranya) kerja sampe adzan Dzuhur berkumandang, setelah shalat dzuhur di musholla sekitar jam 12, saya internetan sampe waktu pulang tiba.

Di kantor... saya ‘sok’ roaming... Di sini bahasa Jawanya logatnya beda. Ngapak. (Padahal saya juga sering pake bahasa itu, terutama kalau pulang kampung ke Purwokerto,yang itu sering) Alhasil saya berusaha menyama2kan logat, supaya lebih blend... nyampur... ganyeng sama mereka... Well selama 3 hari kerja, It hasn’t work. Hhaahaha...

Tempat saya KP ini... kantornya, menurut Kepala Bidangnya (beneran beliau yang bilang), belom layak dibilang kantor... Hehe... Isinya Cuma barisan meja, kursi, beberapa rak dan filing cabinet, 2 unit mesin tik yang bunyinya merdu minta ampun dan dua PC yang jadul... Tapi yang saya sukaa... Adalah terasnya yang adem, ada balai bambunya yang meskipun udah rusak, tapi masih enak didudukin, enggak panas karena di depannya ada kirai bambu (itu tuuh yang bahasa kerennya vertical blind... Di Purbalingga namanya kirai). Nah... Jadilah kantor ini lebih mirip rumah dinas daripada kantor. Yang saya sebel adalaaah: kamar mandinya GELAP! Nggak ada lampu sama sekali... Huhu... Padahal bulan puasa gini, apalagi kalo cuacanya mendung, saya sering bolak-balik ke kamar mandi.

Kalo siang sih, kantornya teduh yaa... Banyak taneman, deket sawah dan kebun juga... Tapi itu semua sebelum saya tau kalo kantor ini adalah bekas rumah sakit... Haduh, saya mendingan nggak tau deh kalo yang kaya gini2. Tapi apa daya, udah terlanjur diceritain sama Mama... Bekas rumah sakit... Rumah sakit aja kadang angker, apalagi bekasnya... Puing2 rumah sakitnya masih ada yang tersisa, kaya saal-saal ruang perawatan (sok tau), mungkin juga ruang operasi... kamar jenazah... huaaaaa... Ditambah lagi di jalan masuk ke kantor aa pohon trembesi yang guedeeee banget... hiii...

Tiga hari di sini saya belom kemana-mana, baru dapet beberapa data sekunder yang dibutuhkan. Saya baru kenalan sama beberapa orang aja: Kepala Bidang Kebersihan, Pak Bambang Sungkowo, yang hobi ber-prolog-ria (lebih mirip monolog sebenernya, karena panjang dan nggak bisa disela); Pak Joko yang kayanya bagian keuangan; Mbak Ajeng yang hobinya nyanyi dan baik hati; Mas Tio (kayanya sih itu namanya) yang nunjukin saya jalan ke kamar mandi; Dan Ibu Bekti yang lagi flu dan kayanya nge-fans juga sama dosen pembimbing KP saya.

Kayanya nanti kalo udah keliling2 bareng truk sampah ceritanya bakalan lebih seru deh...

Meet Me, The Choco Tosca Lover

Hello Virtual World...

This is my another blog besides my featuring project, Super Something. It’s way more personal than the other one. Sometimes, you need your ‘me time’, take a deep contemplation, and surely need a way to come up with your own thoughts. So this is it, a blog of everything I want to speak up. Please don’t take it very seriously, since I’ll post not only thoughts, but also recipes, DIY makeover, and some pics of my daily style (please kindly skip this page of pics if it starts to hurt your eyes :s)

About the title of the Blog... They are my two favorite colours... the brown of the chocolate and the bluish greeny tosca. Some people believe fav colours reflect our personality. So, according to the search, here I am:

Brown: Down to earth, tend to be who they are, not a pretender, reliable friend, and very loyal. Home and family would be the most important thing for this person so as comfortability. 

So sorry, I can’t find any references explaining personality of tosca people... So maybe I’ll blend the explanation of blue and green.


Blue: Calm, steady, well arranged, and reliable. Respet loyality, love happiness and life, and relaxed. 

Green: crave over security and willing to make a better world for others. Wise in arranging time and life goals. But for crucial things, they may get awkward. 

Haa... Now you can figure out a bit about me. 95% of the explanations are right. I don’t like bragging just like I hate other people do it. I do love my family, all of them! :D
I love to spend most of my time with my mom, my brothers and sisters and even my cousins and I prefer being in my home then any other place in this world :).
The rest of the explanation please kindly recheck to my friends :D

Well, actually I’m not really well arranged in some extents. Sometimes I tend to be reckles and careless. But arranging future is one of my capability, at least on my own. I’m relaxed and sometimes waaay tooo relaxed and turn out to be lazy lol. Yes, I love happiness, I create ones, so I able to love my life.

I wish I could make world a better place for universe kind (not mankind, cause world not only consist of human),this is the  basic goal of the major I take, Environmental Engineering.
Hopefully I can make it happen. Amiin...
I’ve been in many discussion with my brothers and sister who are much older than me when I was still young an age, talking about some crucial things of life and family. When I get into that discussion, well yes, I’m pretty serious...

That’s just a very little piece of my complicated personality. I gotta tell you that knowing me may not be very useful, and inspiring you with this blog is too much for me. So I only wish that I could share some of my shallowness and hope that you guys don’t mind dig a bit more to make it deeper :)

Salam...