Sunday, May 19, 2013

Kenapa Harus Mapan?


Beberapa waku yang lalu, di timeline saya seliweran tweet, dan kayanya sih yang ngetwit cowok, bahwa pilihlah perempuan jangan yang mau sama kamu setelah kamu sukses tapi ya yang mau berjuang dari nol. Saya senyum-senyum.

Mama saya sering mengatakan hal yang sama, kalau bisa, punya suami itu ya yang kamu bisa berjuang bareng-bareng sama dia. Soalnya, kata mama lagi, kalo kamunya ga punya apa-apa dan dianya kaya, itu namanya ‘kere munggah bale’. Itu peribahasa Jawa yang intinya sih semacam ‘ikut-ikutan kaya karena suami’ gitulah.

Saya nggak maido (duh ini bahasa Indonesianya apa ya?), mama saya menjalaninya, beneran nikah sama papa sejak beliaunya masih sama-sama kuliah. Tapi anak kuliahan jaman dulu sama jaman sekarang beda, jaman segitu papa saya sudah bisa bayar kuliah sendiri dari hasil bantu-bantu proyek dosen, proyek dia sendiri, bikin taman. Sampe musti tidur di tikar karena baru sanggup beli tanah, belom punya duit buat bangun rumahnya, sampe akhirnya bisa punya perusahaan konsultan sendiri dan beliau jadi salah satu arsitek yang cukup dipercaya. They do share the ups and downs, dan saya amat bangga, pengen banget kaya beliau-beliau.

Saya pernah bertemu, kenalan, dan kemudian jadian sama seorang yang sama seperti papa saya waktu nikah sama mama: Belum punya pekerjaan tetap. Saat itu saya merasa bisa mengulang romantika mama-papa yang sama-sama berjuang dari nol. But guess what? Keadaannya nggak sama. Papa berjuang keluar dari zona ketidaknyamanan-nya dengan bekerja serabutan, supaya bisa hidup lebih baik. Sedangkan si seseorang ini merasa menjadi serabutan adalah pilihan hidupnya. Beda kan?

Nikah bukan cuma urusan hidup dan berjuang bareng dari nol. Apa yang diperjuangkan harus jelas, tujuannya harus jelas, komitmennya harus jelas. Karena nikah bukan kontrak yang bisa kelar setahun-dua tahun dan pisah tanpa merasa bersalah. Nikah adalah komitmen seumur hidup, bukan cuma antara dua anak manusia, tapi juga sama Tuhannya.

Berpasangan atau memilih menikah dengan seseorang yang telah mapan sejak belum menikah bukan berarti tidak mau berjuang dari nol. Berjuang dalam pernikahan tidak sama dengan berjuang mencapai kemapanan finansial. Kalaupun sudah mapan secara finansial sebelum menikah, bukan berarti kehidupan pernikahan seseorang bakalan mulus kaya jalan tol. Saya menyaksikan sendiri betapa kakak-kakak saya, yang sebelum menikahpun sudah cukup secara finansial, masih harus berjuang dalam pernikahannya. Dan di luar sana banyak sekali contohnya orang-orang yang berpisah karena faktor ekonomi. Kalau finansial bukan hal yang krusial, mana mungkin orang rela bercerai ‘hanya’ karena urusan uang?

Ada beberapa ‘keuntungan’ menikah dengan seseorang yang sudah mapan/cukup secara finansial, diantaranya urusan pernikahan bisa lebih terperhatikan. Di awal-awal pernikahan akan banyak sekali konflik di luar urusan finansial yang menguras emosi, bahkan hal sekecil kebiasaan sehari-hari pasangan. Apalagi kalau si istri juga bekerja yang bukan mengejar karir tapi mengejar pekerjaan (kalo kata Rene Suhardono kan your job is not your career. Job itu cari duit, kalo career itu cari kepuasan batin), saat bekerja seakan jadi ‘kewajiban’ buat istri karena kemampuan finansial suami belum cukup buat menopang hidup bersama (belom lagi kalo ada anaknya). Ini bukan nggak percaya sama kemurahan Allah bahwa rezeki sudah diatur, dan setiap yang dikasih hidup pasti dikasih rizki dari Allah, darimanapun datangnya, looh... Ini sekedar menganalisa kelebihan menikah saat finansial sudah mapan/ cukup.

Bukan berarti yang belum punya pekerjaan tetap/ mapan dan cukup secara finansial kehilangan harapan buat menikah looh. Jangan syedih :) Buat para perempuan yang sedang cari calon pendamping, dan percaya bahwa menikah itu membuka pintu rizki, jadi menikah untuk membuka ladang rizki (selain amal ibadah tentunya) bagi dia dan suaminya kelak, perhatikan baik-baik: Carilah pria yang punya integritas! Dari situ insyaAllah kita bisa tau apakah setelah menikah si pria akan bertanggung jawab secara finansial (baca: nafkah lahir) atau tidak. Cari pria yang biasa (karena memang bisa) diandalkan teman-temannya. Tanya visinya dan lihat upayanya. Ada beda yang jelas antara mereka yang berupaya (meskipun serabutan) tapi punya tujuan, dengan yang serabutan karena tidak punya tujuan. Tujuan juga terlihat dari sebesar apa usahanya, seberapa sering dia bangkit lagi setelah gagal.

Jadi, menikah setelah kecukupan finansial buka berarti tidak mau berjuang bersama loh, ini tentang starting point. Mereka yang menikah setelah mapan/cukup finansial punya lebih banyak waktu untuk fokus ke internal pernikahan dan tetek bengek hubungan di dalamnya karena kebutuhan primer sandang-pangan-papan sudah terlebih dahulu terpenuhi, dan bisa akselerasi ke fase ‘bermanfaat bagi sebanyak-banyak orang’. starting poin mereka berada di depan mereka yang masih sama-sama berjuang mencapai kemapanan finansial.

Diluar itu semua, cukup nggak cukup, mapan nggak mapan, adalah soal ukuran masing-masing individu. Ada yang mapan dan cukup adalah kalau mobilnya sudah Alphard, ada yang punya Mio menganggap sudah cukup mapan. So, at last, suit yourselves :)

Love
XOXO
24042013 12.27

No comments:

Post a Comment