Sepulang dari Jakarta sore tadi, saya nonton berita di salah satu stasiun TV swasta yang katanya milik kita bersama. Kabarnya, sekarang cabai impor sedang membanjiri pasar lokal. Cabai impor, seperti komoditi impor yang lain (kecuali BB, gadget, sepatu dan tas bermerk yang resmi, bukan black market), harga cabai ini jauuuuuh lebih murah daripada cabai lokal yang harganya lagi melangit. Bisa sampai 100% bedanya.
Bentuknya? Nggak tau kenapa yah, apa-apa yang impor itu selalu lebih menarik, keliatan lebih semlohai itu cabe dibandingkan dengan cabai keriting lokal yang kurus dan enggak lurus. Warnanya lebih aduhai, kaya abis direndem pake pewarna tekstil 2 hari 2 malam. Ukurannya relatif sama, tapi sedikit lebih besar dari yang lokal. Selalu begitu. Selain cabai, tadi juga dipamerin komoditi agraris impor yang lain mulai dari jahe sampai wortel. Semua yang impor: lebih besar, lebih bersih, harga lebih murah. Wuidiiiihhh... Siapa yang enggak tertarik?
Tapi, ternyata penjualan cabai impor itu tidak secantik wujudnya. Kata si pedagang, cabai lokal tetap lebih laku. Cabai lokal ternyata lebih pedas daripada cabai impor yang pedesnya abal-abal, dadah-dadah doang di lidah. Terus abis nonton berita itu saya mikir (pada dasarnya lagi kurang kerjaan sih), apa sih esensi jadi sebuah cabai? Apa yang dicari orang dari cabai? Kenapa cabai nggak beranak atau bertelur atau membelah diri aja biar cepet berkembang biak dan nggak terpengaruh cuaca? (aduh, kalo yang terakhir itu pertanyaan mengada-ada)
Cabai itu, terutama buat orang Indonesia, adalah sumber rasa pedas yang utama. Meskipun ada merica, jahe, ataupun sendal, cabai punya karakter rasa yang kuat. Pedas. Memang sih, ada beragam jenis cabai, ada cabai keriting, cabai merah besar, cabai hijau, cabai rawit, yang masing- masing punya peranan spesifik dalam memberikan rasa pedas dan juga warna tertentu yang dicari orang. Tapi pada dasarnya, cabai itu identik dengan rasa pedas. Jadi, esensi menjadi sebuah cabai adalah menjadi pedas. Karena orang cari pedas dari cabai itu (mostly), bukan bentuknya, bukan mulusnya, bukan ukurannya, tapi pedasnya.
Saya jadi kepengen menganalogikan cabai dengan manusia. Mungkin iseng... Tapi... Memang iseng. Apa sih esensinya jadi manusia? Apa yang manusia lain cari dari manusia? Nah... Jawaban dari pertanyaan itu saya kembalikan lagi kepada masing-masing individu pembaca. Buat saya pribadi, esensi menjadi manusia adalah menjadi bermakna. Untuk orang lain, untuk lingkungan sekitar, untuk bangsa dan negara. Nah, persoalannya, makna seperti apa yang akan kita tinggalkan? Sumonggo, dipunjawab piyambak-piyambak...
Selayaknya rasa pedas cabai yang otentik. Menurut saya, menjadi pribadi yang khas itu juga penting, be irreplaceable! Hehehe... Jadilah orang yang nggak tergantikan, meskipun orang lain lebih mulus, lebih cantik, penampakan luarnya lebih menarik. Tapi percayalah, jauh di dalam diri kita, tersimpan ‘biji-biji cabai yang pedasnya luar biasa, atau menyengat,atau bikin mata berkaca-kaca, atau ngangenin’,sesuai karakter kita masing-masing.
P.S: Saya juga sempet mikir, kenapa cabai lokal lebih pedas dari cabai impor? Mungkin karena cabai kita tumbuh di tanah yang didalamnya bersemayam orang-orang yang berpeluh-darah berjuang untuk merdeka, atau untuk berjuang bersusah (terlalu) payah mendapatkan sesuap nasi. Jadi setiap kita makan cabai yang pedasnya minta ampun itu, mata kita akan berkaca-kaca demi mengingat mereka, tanpa kita sadari.
Posted on FB Wednesday, January 26, 2011 at 6:08pm
No comments:
Post a Comment